SELURUH RAKYAT PAPUA HARUS BERSATU MENYONGSONG INI

  • 5

21 April 2015

"SYI’AH" DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS



Dari blog "Islam itu Cinta"; Rabu, 2 Maret 2011

“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan imamnya; dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun” (QS. Al-Israa: 71)

Pada hari pengadilan akhirat, takdir dari setiap orang yang mengikuti para imamnya yang dipercayainya akan tergantung dari imam-imam yang dipercayainya itu apabila ia memang benar-benar mengikuti para imam yang ia percayai itu. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa ada dua jenis imam yang diikuti dan diyakini oleh para pengikutnya. Ada imam yang mengajak manusia untuk masuk ke dalam api neraka. Untuk kategori ini adalah para pemimpin yang dzalim dan tiran di masanya seperti Fir’aun, misalnya.

“Dan Kami jadikan mereka para imam yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.

Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS. Al-Qashash: 41—42)

Al-Qur’an sudah memberikan peringatan kepada orang-orang yang mengikuti para imam yang dzalim dan para pengikut imam seperti itu akan mendapatkan takdir buruknya kelak di akhir zaman. Mereka akan digabungkan dengan para imamnya itu dalam jahanam.

Di sisi lain Al-Qur’an juga memberikan informasi tentang adanya Imam-Imam yang memang ditunjuk oleh Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar. Lihatlah ayat berikut ini:

“Dan Kami JADIKAN di antara mereka itu IMAM-IMAM yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

(lihatlah kata-kata JADIKAN dan IMAM-IMAM yang menjelaskan secara tegas tentang jabatan Imam yang ditunjuk oleh Allah dan bukan oleh manusia. Dan mereka memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan nabi walaupun tidak membawa kitab suci yang baru).

Dengan melihat ayat-ayat tersebut di atas, maka kita bisa simpulkan bahwa para pengikut dari Imam-Imam yang mendapat mandat dari Allah itu akan menemui kebahagiaan di akhirat kelak. Jadi kalau kita menjadi pengikut seorang imam maka itu tidak berarti apa-apa kalau yang kita ikuti itu adalah seorang imam yang tidak mendapatkan mandat dari Allah. Jadi akhir yang baik dan yang buruk bagi kita di akhirat kelak itu ditentukan dari siapakah imam yang kita ikuti dan patuhi selama kita hidup di bumi.

Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa beberapa hambaNya yang haq adalah juga pengikut (Syi’ah) bagi para hambaNya yang lain. Seperti pernah dijelaskan Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim itu adalah pengikut (Syi’ah) dari Nabi Nuh.

“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)” (QS. Ash-Shaaffaat: 83)

(Lihatlah kata "Syi’ah" yang dipakai secara jelas sekali oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan kata itu huruf demi huruf dalam ayat tersebut di atas dan juga dalam ayat berikut ini)

Dalam sebuah ayat dalam Al-Qur’an diceritakan tentang pengikut (?????) Nabi Musa melawan musuh-musuh dari Nabi Musa. Lihatlah ayat berikut dan lihatlah penggunaan kata SYI’AH untuk ayat tersebut:

“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari SYI’AHNYA (pengikutnya)(Bani Israel) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari SYI’AHNYA (pengikutnya) meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya) (QS. Al-Qashash: 15)

Di dalam ayat Al-Qur’an di atas ada orang  yang disebut sebagai pengikut Nabi Musa (atau SYI’AH MUSA) dan orang yang satunya lagi disebut sebagai musuh dari Nabi Musa. Orang-orang pada jaman bisa dibagi kedalam dua kelompok: kelompok SYI’AH MUSA atau kelompok MUSUH MUSA.

Dengan kata lain bisa kita simpulkan bahwa Allah secara resmi menggunakan kata SYI’AH dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan pengikut para Nabi dan sekaligus para Nabi itu sendiri (masih ingat Nabi Ibrahim yang disebut sebagai SYI’AH—pengikut—dari Nabi Nuh?). Allah menggunakan kata SYI’AH ini dengan segenap penghormatan kepada para hambaNya yang shaleh. Apakah dengan itu kita membuat Nabi Ibrahim itu sebagai seorang sektarian? Bagaimana dengan Nabi Nuh dan Nabi Musa?

Kata "Shiah" itu sendiri artinya “pengikut” atau “anggota dari sebuah kelompok”. Sementara itu kata SYI’AH sendiri sebenarnya tidak mengandung sifat positif atau negatif. Kata itu akan bersifat negatif atau positif apabila kata itu disandingkan dengan nama seorang pemimpin tertentu.

Apabila seorang pengikut (SYI’AH) itu mengikuti para hamba Allah yang haq, maka tidak ada salahnya dengan kata SYI’AH itu apalagi mengingat imam yang ia ikuti itu adalah imam yang diberikan mandat langsung oleh Allah untuk membimbing umat manusia. Sementara itu apabila seseorang itu telah menjadi seorang pengikut (SYI’AH) dari seorang tiran yang kejam; seorang pemimpin yang tidak berperikemanusiaan; seorang pemimpin yang korup bukan kepalang, maka ia akan menemui takdir buruknya bersama dengan imam yang diikutinya.

SEKARANG PERKENANKANLAH SAYA MENGAJUKAN BEBERAPA PERTANYAAN:
APABILA SAUDARA KITA DARI KALANGAN AHLUSSUNNAH JUGA MENGAKU SEBAGAI PENGIKUT ALI MAKA:

Mengapa mereka tidak menyebut diri mereka sebagai Syi’ah Ali (pengikut Ali)? Bukankah mereka juga mengaku-aku sebagai pengikut Ali?

Apabila mereka mengaku dan menganggap dirinya sebagai pengikut Mu'awiyyah, mengapa mereka tidak mengubah nama kelompok mereka (AHLUSSUNNAH) menjadi Syi’ah Mu’awiyyah? Mengapa mereka malah malu-malu menyebut diri sebagai pengikut Mu’awiyyah dan malah menyebut kelompok mereka sebagai kelompok Sunni?

Siapakah yang telah memberi mereka nama SUNNI atau AHLUSSUNNAH?

Apabila Allah yang telah memberikan mereka nama (SUNNI/AHLUSSUNNAH) itu (seperti nama SYI'AH yang digunakan Allah dalam Al-Qur’an), lalu bisakah mereka menunjukkan kepada kita ayat mana yang menggunakan nama golongan mereka?

Apabila nama kelompok SUNNI/AHLUSSUNNAH itu diberikan oleh Rasulullah, maka tunjukkanlah haditsnya dimana Rasulullah menyebutkan nama SUNNI atau AHLUSSUNNAH?

PADA KENYATAANNYA  YANG TERJADI IALAH KATA “SUNNI” ATAU “AHLUSSUNNAH” ITU TIDAK PERNAH DIDAPATI BAIK DALAM AL-QUR’AN MAUPUN DALAM HADITS YANG DISAMPAIKAN OLEH RASULULLAH.

Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang disebutkan di atas menggunakan bentuk tunggal (singular form) yaitu hanya menunjuk pada satu kelompok saja. Jadi artinya ialah kata ini sangatlah khusus dan digunakan untuk tujuan khusus oleh Allah. Allah menuliskan kata SYI’AH NUH (pengikut nabi Nuh) kemudian SYI’AH MUSA (pengikut nabi Musa) dengan tujuan bahwa kata SYI’AH itu akan dipahami sebagai pengikut orang baik-baik. Pengikut para Nabi. Pengikut para wali Allah yang suci. Pengikut Rasulullah. Pengikut keluarga Nabi. Kata SYI’AH itu dipergunakan Allah untuk menyebut satu kelompok saja yaitu kelompok yang beserta kebaikan dan untuk kelompok lawannya Allah menggunakan kata yang lain seperti kata "musuhnya". Al-Qur’an tidak menyebut dua kelompok sebagai SYI’AH MUSA dan SYI’AH FIR’AUN. Jadi Allah hanya mengakui satu kelompok saja yang Allah berinama SYI’AH untuk disandingkan dengan nama para Nabi dan para nama Wali Allah.

Dalam sejarah Islam, kata SYI’AH (pengikut) telah secara khusus digunakan sebagai “Pengikut Ali” (SYI’AH ALI). Dan orang yang mengeluarkan istilah PENGIKUT ALI ialah Rasulullah sendiri!

Rasulullah telah berkata kepada Imam Ali:

“Kesejahteraan dan kebahagiaan bersamamu, ya Ali! Sesungguhnya engkau dan Syi’ahmu (pengikutmu) semuanya akan masuk surga”

Lihat hadtis tersebut dalam referensi AHLUSSUNNAH atau SUNNI seperti dalam kitab-kitab:

Fadha’il al-Sahaba, oleh Ahmad Ibn Hanbal, volume 2, halaman 655
Hilyatul Awliyaa, oleh Abu Nu’aym, volume 4, halaman 329
Tarikh, oleh Al-Khatib al-Baghdadi, volume 12, halaman 289
Al-Ausath, oleh At-Tabarani

Rasulullah sendiri menggunakan kata-kata SYI’AH ALI ketika beliau masih hidup (tentunya!). Kata-kata ini bukanlah kata-kata yang dibuat di kemudian hari. Kata-kata ini benar-benar keluar dari mulut Nabi yang suci. Rasulullah berkata bahwa PENGIKUT ALI YANG SETIA akan masuk surga, dan ini tentunya adalah kesempatan yang berharga untuk dilewatkan begitu saja!

Jabir Ibn Abdillah Al-Ansari meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “SYI’AH ALI akan menjadi kelompok pemenang di hari kebangkitan nanti”.

Lihat referensi dari hadits tersebut di atas dalam referensi AHLUSSUNNAH atau SUNNI:

Al-Manaqib Ahmad seperti yang juga termaktub dalam
Yanabi al-Mawaddah, oleh Al-Qunduzai al-Hanafi, halaman 62
Tafsir Al-Durr al-Mantsuur, oleh Al-Hafidh Jalaluddin As-Suyuthi

KATA “SYI’AH” TELAH TERBUKTI ADA DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS NABI. APABILA KELOMPOK SUNNI ATAU AHLUSSUNNAH TIDAK BISA MENGEMUKAKAN BAHWA KATA-KATA “SUNNI” ATAU “AHLUSSUNNAH” ITU ADA DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS NABI,
MAKA SESUNGGUHNYA AGAMA YANG MEREKA PERCAYAI ITU ADALAH AGAMA BUATAN SEMATA! DAN ITU TERMASUK BID’AH YANG BESAR! AGAMA YANG DISISIPKAN KEDALAM ISLAM SETELAH MENINGGALNYA RASULULLAH AL-MUSTAFA.
KEBENARAN TELAH TERSAMPAIKAN ……………SEKARANG KEPUTUSAN ADA DI TANGAN ANDA!


26 komentar:

Agus Muslih mengatakan...
Artikel tersebut semakin menegaskan adanya " kepemimpinan Illahi " dalam Islam atau jabatan Ilahiyah yang Allah SWT anugrahkan kepada orang orang pilihan dianatara hamba 2 nya yang saleh sebagaimana diyakini syiah, sedangkan di sunni pada umumnya berpedoman pada "musyawarah" atau memilih sendiri imam dan pemimpinnya. hal ini pula yang menyebabkan adanya perbedaan dalam memaknai "ULIL AMRI MINKUM". Jika di perhatikan dalam Al Quran, urusan membersihkan pakaian dan mencatat utang yang pengaruhnya hanya untuk 1-2 orang saja diarahkan oleh Allah SWT, apalagi masalah kepemimpinan yang dampaknya kepada masyarakat luas! , demikian biasanya syii memperkuat argumen. Dan saat semua menyadari bahw tidak ada paksaan dalam agama, artinya yang tersisa adalah sebuah pilihan dan kita oleh nash hanya disuruh memilih pendapat yang terbaik, sambil tetap menjaga persatuan, saling menghormati, dan terhindar dari tepecah belah.

...Lanjutkan Membaca

http://cahyono-adi.blogspot.no/2013/08/syiah-dalam-al-quran-dan-hadits.html#.VTagc6aPJNI
http://ismail-asso.blogspot.com


Tidak ada komentar: