SELURUH RAKYAT PAPUA HARUS BERSATU MENYONGSONG INI

  • 5

17 Maret 2017

MARI KITA ANALISA ESENSI PELEMPARAN JAMARAH DI MINA DALAM PELAKSANAAN IBADAH HAJI





FENOMENA INI MENGAJAK KITA UNTUK BERFIKIR WAHAI SAUDARAKU AGAR AGAMA KITA MENJADI SIGNIFIKAN DALAM KEHIDUPAN INI 

PELEMPARAN JAMARAH DI MINA MERUPAKAN SINYAL-SINYAL UNTUK MEMAHAMI 3 TYPE MAKHLUK YANG BERBAHAYA 
BAGI KEMANUSIAAN
MANUSIA SEJATI MENDAMBAKAN RAHMATAN LIL’ALAMIN
TOLERAN DAN BERWAWASAN KEMANUSIAAN
Hsndwsp
Acheh - Sumatra
Di
Ujung Dunia





Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ada tiga Berhala di Lembah Mina:
1) Jamaratul `Ula (‘Fir’un’/Penguasa Despotic)
2) Jamaratul Wus`a (Karun dan Hamman) dan yang ke
3) Jamaratul 'Aqaba (Bal’am/Ulama gadongan/Ulama palsu)

Ketiga-tiga bangunan yang berbentuk cicin besar itu, setahun sekali wajahnya dilapi si dengan cat putih. Namun kenapa engkau sebutkan berhala? Guruku telah membe ritahukanku bahwa ketiga-tiga bangunan tersebut melambangkan tiga berhala. Berhala pertama sebagai simbolisasi dari Fir'aun, berhala kedua sebagai simbolisasi dari Karun dan Hamman sedangkan berhala yang ketiga sebagai simbolisasi dari Bal'am. Memang tepat sekali kalau kita mau berafala ta`qilun dan berafala yatazakkarun, kecuali Tuhan yang sesungguhnya (baca Allah), yang lain semuanya menggunakan format Trinitas. Objek yang mereka pertuhankan itu terdiri dari 3 entas. Entas anak, entas bunda dan entas bapa (Kristen). Entas Brahma, entas Wisynu dan entas Syiwa (Hindu). Api Arumanan dza, api Madza dan api . . . . . . .(Majusi).

Pada tgl 10 Zulhijjah para jamaah Haji bergegas menuju lembah Mina setelah selesai wukuf di Masy’arul Haram untuk acara pelemparan Jamarah. Dengan apa mereka melakukan pelemparan tersebut? Dengan batu kerikil. Darimanakah mereka memperoleh batu-batu kerikil tersebut? Dari Masy’arul Haram. Kalau wukuf di Arafah dila kukan diwaktu siang, wukuf di Masyarulharam dilakukan diwaktu malam. Pelajaran apakah yang dapat dipetik oleh manusia yang mauberfikir?

Masy’arul Haram adalah "laboratorium" kesadaran. Kesadaran apakah itu? Kesadaran suci. Apakah kesadaran suci itu? Kesadaran seorang pribadi Muslim sejati. Di manakah engkau sekarang? Di Masya'rulharam. Apakah artinya itu? Masya'rulharam adalah lisanul A'rabiah, yang berarti "Kesadaran suci". Tidak ada apapun yang harus engkau kerjakan disini kecuali mencari batu kerikil untuk engkau lontarkan nanti di lembah Mina (Jamaratul u'la, Jamaratul wusa' dan Jamaratul a'qaba). Kerikil yang bagaimanakah yang harus engkau pilih? Pilihlah batu kerikil yang mengkilap, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Apakah artinya kesemua itu? Kalau A'rafah sain dan thenologi, Masya'r adalah Hikmah dan Wahyu (QS.62;2). Dimensi ilmu yang diturun kan di Masya'r ini adalah "Primer". Artinya lebih utama dari ilmu-ilmu yang lainnya. Ilmu ini diturunkan melalui para Rasul/Utusan sejak dari Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad saww.

Selanjutnya diwariskan kepada Imam-imam, para Ulama sejati, Penyeru-penyeru ke benaran (Pendakwah Sejati/pendakwah yang berislakh) dan yang terakhir kepada orang-orang Mu`min Sejati. Ilmu tersebut adalah sinar diatas sinar. Itulah sebabnya wuquf di Masya'r dilaksanakan di waktu malam. Ilmu ini tidak membutuhkan penerangan, tidak membutuhkan lampu dalam prosesnya, sebab dia sendiri merupakan lampu untuk menerangi ilmu-ilmu yang lainnya. Siapapun yang memiliki ilmu ini, tidak akan sesat dalam mengarungi kehidupan dunia ini. 

Terdapat istilah yang relevan dalam agama Yahudi dan Nasrani yaitu 'Sofia', demikian juga dalam agama Hindu dan Budha yang dinamakan 'Nirwana'. Namun yang harus kau yakini sesungguhnya yang benar-benar Sofia dan Nirwana adalah Hikmahnya Islam. (Innad dina i'ndal lAllahil Islam). Hanya Islamlah satu-satunya yang termasuk agama Samawi, sementara yang lainnya adalah agama Ardhi. Yahudi bukan agama nabi Musa dan Nasranipun bukan agama nabi ‘Isa. Yahudi adalah suatu agama yang dinisbahkan kepada seorang tokoh yang kontraversi dengan nabi Musa, yang bernama Yahuda. Sedangkan Nasrani adalah suatu agama yang dinisbahkan kepada seorang tokoh yang kontraversi dengan nabi I'sa,yang bernama Nashara.(QS. 2;140)

‘Arafah adalah Saint dan Technology
Untuk apa perlunya kita melempar jemarah kalau hanya dengan batu kerikir? Bukankah itu terkesan hanya main-main saja? Kalau kita percaya apa yang dikatakan sebahagian para ‘alim, untuk melempar Syaithan, dimana dulunya dilempari oleh Nabi Ibrahim yang mampu melihat Syaithan tersebut, apakah kita juga mampu melihat Syaithan yang sama di Mina itu? Yang namanya Syaithan atau Iblis jangankan lemparan dengan ke rikil, dengan Nuklirpun tidak ada manfaatnya bagi kita. Adalah sama halnya kita mendengar ceramah para Alim bahwa saat kita azan, Syaithan lari terbirit-birit. Tidakkah kita sadari bahwa bukankah setelah azan selesai, mereka secepat kilat bisa berada di depankita kembali?

Fenomena inilah yang di ajak kita untuk berfikir, wahai saudaraku sekalian agar agama kita berguna dalam kehidupan hidup ini, bukan saja berguna dalam Ibadah Haji di Mekkah, Padang Arafah, Masya’ar dan Mina.


http://ismail-asso.blogspot.com

19 Februari 2017

INILAH YANG DAPAT KULAKUKAN UNTUK MEMBELA KAUM MUSTADH’AFIN INDONESIA, WEST PAPUA DAN ACHEH – SUMATRA





SEMUA RASUL ALLAH KECUALI ADAM
DIUTUS UNTUK MEMBEBASKAN KAUM MUSTADH’AFIN
DARI BELENGGU YANG MENIMPA KUDUK-KUDUK MEREKA
TUGAS INI DITERUSKAN PARA IMAM DAN PARA ULAMA WARASATUL AMBYA’
SEDANGKAN PARA BAL’AM BERSEKONGKOL DENGAN PENGUASA DESPOTIK UNTUK MENINABOBOKKAN KAUM MUSTADH’AFIN DI SELURUH DUNIA
Angku di Tampokdjok, Awegeutah
Acheh – Sumatra
Di
Ujung Dunia



Bismillaahirrahmaanirrahiim:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu“. (QS, al-Baqarah [2]: 208-209).

Mari Kita ber-Amarmakruf dan Nahimungkar di Indonesia
Darimana kita mulai?

Dari kemanusiaan. Ada 2 kutub kemanusiaan di Dunia sejak Allah menjadikan WakilNya (Adam) di muka Bumi yaitu kutub Habil dan kutub Qabil. Kenapa kita musti mulai dari Habil dan Qabil? Sebab kaum Mustadhafin terkecoh pikirannya oleh penampilan manusia yang berpakaian Islam tetapi berhati Iblis. Mereka menggunakan ayat-ayat Allah sekedar untuk mengelabui kaum Mustadhafin hingga terpana dengan ajaran agama yang dibawa para Ulama gadongan yang bercokol di lembaga MUI itu.

Lembaga Bal-‘am tersebut mulai zalim pada zaman Suharto untuk melanggingkan kekuasaannya. Justeru itulah Kekuasaan Suharto lama bertahan disebabkan mendapat support kuat dari para Bal’am. Qabil ala Suharto dilengserkan Amin Rais cs tetapi sayangnya Amin Rais tidak cukup pintar dalam berpolitik dan Agamanyapun cendrung masuk perangkap para Bal’am. Akibatnya walaupun Suharto sudah lengser, persekongkolan Fir’un, Karun, Hamman dan Bal’am masih saja bertahan hingga kaum Mustadhafin tetap tidak terbebaskan dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka. Sayang Amin Rais sendiri di zaman Jokowi yang sedang meniti jejak Habil, berseberangan sepakterjang dengan nya.

Salah satu pengikut Qabil yang sangat kental paska Suharto adalah Yudhoyono. Dizamanya KPK yang bertugas untuk memberantas Korupsi, diancam dengan penjara dan bahkan dihabisi dengan rekayasa. Salah seorang korban rekayasa adalah Antasari Azhar hingga dengan mudah dimasukkan dalam penjara.  Demikian juga Abraham Samad, tidak luput dari sandiwara yang dimainkan  Yudhoyono. Walaupun kebanyakan kaum mustadhafin belum mampu mendeteksinya, insya Allah mereka akan memahaminya saat Antasari Azhar membuka kedok Yudhoyono secara transparan. Alhamdulillah kita sudah memahaminya sebelum Antasari membongkarnya disebabkan sepakterjang dari persekongkolan Firun, Karun Hamman dan Bal’am telah lama kita dalami via Ideolog-ideolog yang brilliant, dimana mereka menimba ilmu dari Abu Dzar Ghifari, Salman Al Farisi dan Al Miqdad (baca 3 Sahabat Rasulullah yang paling setia).

Sejak terbunuhnya putra Nabi Adam yang bernama Habil, Agama Nabi Adam dipelintir oleh Qabil yang durhaka. Qabil pembunuh manusia di awal sejarah kemanusiaan merekayasa Agama ayahnya hingga pengikutnya meyakini bahwa itulah agama Nabi Adam dan Siti Hawa.  Agama dalam bentuk yang rusak secara horizontal menambah rujam dengan rusak juga secara vertical di zaman Namrud. Lalu Allah menurunkan Nabi Ibrahim untuk meluruskan kembali agamaNya. Setelah Nabi Ibrahim berpulang kerahmatullah, muncullah Fir’un, Karun Hamman dan Bal’am, dimana persekongkolan mereka diabadikan di Mina (Baca Jamaratul ‘ula, Jamaratul Wus’a dan Jamaratul ‘Aqaba), Hamman disatukan dengan Karun. Lalu Allah swt memunculkan Nabi Musa dan Harun untuk meluluhlantakkan sepakterjang Fir’un, Karun, Hamman dan Bal’am. Sayangnya Bani Israel yang diselamatkan Musa dan Harun, dengan mudahnya masuk perangkap Samiri hingga agama Allah dipalsukan kembali sampai hari ini.

Bal’am inilah yang mempengaruhi manusia agar bekerjasama dengan penguasa Zalim di seluruh dunia. Kita tidak berbicara di negara-negara yang mayoritas penduduknya non Islam tetapi persekongkolan yang perlu kita ungkap adalah di negara-negara yang mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam, agar kaum mustadhafin sadar bahwa agama Allah yang murni tidak lagi diikuti Penguasa dan ulama Bal’am tetapi agama yang mereka anut adalah agama Qabil. Itulah sebabnya secara ideology mereka disebut manusia Kutub Qabil, bukan manusia Kutub Habil.

Islam dan Negara tidak dapat dipisahkan. Tanpa negara yang benar Agama akan rusak dibawah persekongkolan Penguasa dan Ulama Bal’am. Tanpa Negara yang bebas dari sepakterjang Penguasa Zalim dan Bal’am, kaum mustadhafin akan  menderita di Dunia dan bahkan di Akhirat juga bagi kaum mustadhafin yang mengikuti agama Ulama Bal’am/agama Qabil. Qabil juga mengaku beragama “Islam” tetapi siapapun yang melawan kebijaksanaannya akan dibunuh walaupun saudaranya sendiri, apalagi orang lain.

Semua Rasul kecuali Adam, diutus Allah untuk membebaskan kaum mustadhafin dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka (QS,7:157 & QS, 90:12-18). Ulama gadonganlah yang menjauhkan kaum mustadh’afin dari pembendaharaan dunia. Dalam pandangan Islam Murni, Negara adalah milik Rakyat bukan milik penguasa atau pejabat. Justeru itu kekayaan Negara juga milik Rakyat bukan milik penguasa dan pejabat. Disa’at kaum mustadhafin dituduh bersalah tidak bekerja dengan rajin oleh kaki tangan penguasa zalim, kebanyakan kaum mustadhafin mengiyakannya tanpa memahami kenapa mereka menjadi malas. Kalau Rasul Allah diutus untuk membebaskan kaum mustadhafin dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka, otomatis yang namanya Ulama benaran (Ulama Warasatul Ambia’) juga bertugas untuk membela kaum mustadhafin, bukan seperti Bal’am, bersatu dengan penguasa zalim untuk meninabobokkan kaum mustadh‘afin.

MUI dizaman Yudhoyono tidak berbeda dengan MUI di zaman Suharto. Kini ketika Jokowi dan Ahok cs mulai menempuh  “jejak manusia Habil“, mereka yang bercokol di lembaga MUI tersebut mulai berseberangan jalan dengan Jokowi dan Ahok cs. Yang paling ketara adalah, ketika Ahok sedang mengikuti  “jalan para Rasul“ untuk membebaskan kaum Mustadhafin Jakarta dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka. Namun lihatlah bagaimana para Bal’am yang bercokol di lembaga MUI, berdaya upaya uantuk memfitnah Ahok hingga berhasil memaksanya berurusan dengan para Hakim atas tuduhan penistaan agama. Andaikata pembaca memiliki sedikit saja ideology Islam murni, pastilah anda memahami benarnya literatur  “Angku di Tampokdjok Awegeutah“ ini.

Disamping sepakterjang para Bal’am tersebut amatilah apa yang sedang terjadi dalam proses pemilihan kepala daerah DKI tahun 2017 ini. Putaran pertama Ahok – Jarot masih unggul dari paslon nomor 1 dan 3, namun yang dilupakan oleh sebahagian penduduk DKI adalah usaha licik tokoh-tokoh yang bekerjasama dengan para Bal’am untuk menggulingkan Ahok via putaran ke 2. Apabila hal ini berhasil, usaha yang sama akan ditujukan kepada Jokowi cs. Apabila sepakterjang mereka berhasil, tamatlah riwayat Indonesia yang sedang menapaki jalam manusia Habil dan kembali Qabil-qabil bergentayangan di seluruh Indonesia, termasuk Papua dan Acheh – Sumatra, negeri Angku di Tampokdjok. Para pecinta kebenaran akan dipaksakan masuk penjara dan para Koruptor tetap langgeng di Nusantara ini tanpa waswas, kecuali tiba saatnya kemunculan Imam Mahdi al Muntazhar dan Nabi Isa bin Maryam untuk memimpin Dunia seluruhnya secara adil. Mungkin saat tersebut kebanyakan kita tidak sempat menyaksikannya disebabkan umur kita sendiri yang sudah berakhir.

Disebabkan Yudhoyono sudah kalah dalam pilkada anaknya, dia mulai menggempur Ahok, bersatu dengan Prabowo yang sama sepakterjangnya dengan Suharto. Rakyat Indonesia dapat melihat di video dibawah ini, bagaimana  “pagi-pagi“  benar sudah mulai merapatkan barisan dengan calon yang diusung para Bal’am lainnya yaitu Anie Baswedan – Uno. Anies ini memakai peci untuk mengelabui kaum mustadfhafin. Sebagaimana kita katakan sebelumnya bahwa andaikata rakyat Jakarta secara mayoritas mengikuti para Ideolog Islam Murni, pasti sadar bahwa dibelakang Anies yang lugu itu adalah Prabowo, Qabil yang juga memakai peci macam Suharto. Sepertinya mayoritas rakyat Indone sia masih kabur pandangan mereka saat berhadapan dengan Prabowo dan Yudhoyono yang ber bahaya bagi kaum mustadhafin itu. Justeru itulah kita ingatkan sebagai  “Dakwah berislakh“ untuk membebaskan kaum Mustadhafin Indonesia, West Papua dan Acheh – Sumatra dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka dalam hidupnya. Semoga kaum mustadh’afin dimanapun mereka berada sadar bahayanya mengikuti sepakterjang para Bal’am dengan ideology Qabil, bukan ideology Habil. Apabila mereka sadar Ahok - Jarot pasti menang dan Kaum mustadhafin akan mendapat angin segar, bukan saja di Jakarta tetapi juga insya Allah, West Papua dan Acheh –Sumatra.

Literatur singkat ini kita tutup dengan ayat Allah:

“Orang-orang yang zalim itu kelak akan tahu,
kemana mereka akan kembali“ 
(QS, Asy-Syuara: 227)




Billahi fi sabililhaq
Angku di Awegeutah Tampokdjok
Acheh – Sumatra

Di Ujung Dunia



http://ismail-asso.blogspot.com

KENAPA ILMUNYA SELANGIT TETAPI BELUM MAMPU MEMAHAMI AYAT ALLAH?

 



SEBABNYA MEREKA TIDAK MENGENAL PARA IMAM YANG DIUTUS ALLAH PASKA KEWAFATAN RASULULLAH SAWW SEBAGAI PERPANJANGAN KEIMAMAHAN BELIAU AGAR UMMAH TIDAK SESAT PASKA KEWAFATANNYA

Angku di Awegeutah, Tampokdjok
Acheh - Sumatra
di
Ujung Dunia




Bismillaahirrahmaanirrahiim

terjemahan 1
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai temanmu ( بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ) dimana mereka beraliansi satu-sama lainnya. Barangsiapa diantara kamu me ngambil mereka menjadi teman maka sesungguhnya orang tersebut men jadi golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepa da orang-orang yang zalim" (QS, 5: 51)

terjemahan 2
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mere ka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (QS, 5: 51)

Ayat 51 surah al Maidah itu adalah fenomena kafir Harbi, makanya kaum muslimin dilarang Allah untuk berkawan setia sebab mereka beraliansi satu sama lainnya. Kalaupun ada kaum muslimin yang melanggar larangann Allah, mereka tidak lagi termasuk golongan muslim. Yang perlu kita pertanyakan apakah Allah melarang kaum muslimin berkawan setia kepada semua Nasrani dan Yahudi? Jawabannya pasti “Tidak”.

Silakan lihat ayat 82 dimana ayat tersebut adalah fenomena non Moslem yang Jimmi. Inilah yang masih banyak kaum muslimin belum memahaminya hingga salah kaprah ketika ada non Moslem yang baik dilarang berteman, dilarang memilih sebagai pemimpin macam kasus Gubernur di Jakarta. Padahal Ahok itu bukan kafir Harbi yang dilarang di ayat 51 tetapi Ahok non Moslem yang Jimmi yang dibenarkan untuk kita pilih sebagai pemimpin kecuali ada pemimpin Muslim yang sama macam Ahok yang sudah terbukti memimpin kaum muslimin secara Islami.

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras per musuhan nya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesung guhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya ka mi ini orang Nasrani". Hal itu disebab kan karena di antara mereka itu terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena se sungguhnya mereka tidak menyombongkan diri" (QS. Al Maidah: 82)

Prediksi saya Ahok sukar masuk Islam kalau beliau melihat pe nampilan kaum mus limin lebih rendah nilainya dibandingkan non Moslem yang Jimmi. Padahal itu bukan fenomena Muslim benaran tetapi Muslim KTP alias munafikun. Pantasin seorang non Moslem yang sudah menjadi Muslim masih saja keliru sepakterjangnya disebabkan sesungguhnya mereka belum mene mukan Islam murni higga salah kaprah saat menjadin saksi kasus Ahok. (baca Irene Handoko, ex Biarawati)
Kenapa kita kaum muslimin harus memilih Ahok?

Sebab pemimpin yang lain dari Ahok adalah Islam KTP, dimana setelah disumpah dengan kitab Qur-an, langsung korupsi alias mencuri harta ke kayaan negara yang secara Islam adalah milik Rakyat seluruhnya. Anies Baswedan yang dicalonkan untuk menggeserkan Ahoik juga termasuk Is lam KTP, konon pula yang lainnya. Ini memang tidak dapat dilihat de ngan kacamata syar'i tetapi dengan kacamata Ideology. Islam. Andaikata Anies sadar, pasti dia tidak mau merebut posisi Ahok yang sudah benar tetapi mencari calon Gubernur kawasan lainnya agar Indonesia ke depan menja di milik Rakyat bukan milik penguasa /pejabat

Justeru itu mereka mengunakan al Maidah ayat 51 untuk menggeser Ahok agar mereka aman melakukan praktek korupsi. Ironisnya mereka yang bercokol di lembaga MUI pun bekerjasama dengan para pemimpin yang korup itu.

Fenomena tersebut sudah lama terjadi di Indonesia hingga banyak para Alim yang membe la pemimpin Islam KTP untuk menjadi pemimpin mere ka. Ketika Jokowi dan Ahok muncul para koruptor yang mayoritas adalah pemimpin disetiap jajaran dan juga di lembaga Legis latif, Eksekutif dan Yudikatif, merasa terhina dan terbongkar kepalsuan mereka. Makanya me reka yang merasa rugi berdaya upaya untuk menyingkirkan Ahok dan Jokowi, namun tidak berhasil disebabkan warga Jakarta sudah sadar kemunafikan para pemimpin yang korup itu.

Sebagai penutub, sebaiknya pembaca meneliti juga ayat 69: “Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, Shabiin, dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS, 5, 69)

https://achehkarbala.blogspot.no/…/islam-itu-tidak-cukup-di…

Andaikata saya berada di posisi Ahok, juga akan saya katakan bahwa kalian jangan sampai dibohongi pakai al Maidah ayat 51, dimana para penghuni lembaga MUI saja tidak paham tafsir yang benar, konon pula alimpalsu lainnya macam AA Gym yang berbicara ngaur di TV one, dimana Qarni Ilyas sebagai moderatornya.


Billahi fi sabililhaq
Angku di Awegeutah, Tampokdjok
Acheh - Sumatra

di Ujung Dunia







http://ismail-asso.blogspot.com

16 Februari 2017

MARILAH KITA TELITI SURAH AL MAIDAH AYAT 51, 82 DAN 69





KENAPA ILMUNYA SELANGIT TETAPI BELUM MAMPU MEMAHAMI AYAT ALLAH?
SEBABNYA MEREKA TIDAK MENGENAL PARA IMAM YANG DIUTUS ALLAH PASKA KEWAFATAN RASULULLAH SEBAGAI PERPANJANGAN KEIMAMAHAN BELIAU AGAR UMMAH TIDAK SESAT PASKA KEWAFATANNYA

hsndwsp
Acheh -Sumatra
di
Ujung Dunia




terjemahan 1

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan Nasrani sebagai temanmu (aulia-a ba’dhuhum aulia-u ba’dhin) dimana mereka beraliansi satu-sama lainnya. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi teman maka sesungguhnya orang tersebut menjadi golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim» (QS, 5: 51)

terjemahan 2

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (QS, 5: 51)

Ayat 51 surah al Maidah itu adalah fenomena kafir Harbi, makanya kaum muslimin dilarang Allah untuk berkawan setia sebab mereka beraliansi satu sama lainnya. Kalaupun ada kaum muslimin yang melanggar larangann Allah, mereka tidak lagi termasuk golongan muslim. Yang perlu kita pertanyakan apakah Allah melarang kaum muslimin berkawan setia kepada semua Nasrani dan Yahudi? Jawabannya pasti “Tidak”.
'

Silakan lihat ayat 82 dimana ayat tersebut adalah fenomena kafir Jimmi. Inilah yang masih banyak kaum muslimin belum memahaminya hingga salah kaprah ketika ada non Moslem yang baik dilarang berteman, dilarang memilih macam kasus Gubernur di Jakarta, padahal Ahok itu bukan kafir Harbi yang dilarang di ayat 51 tetapi Ahok Kafir Jimmi yang dibenarkan untuk kita pilih sebagai pemimpin. Saya yakin bahwa Ahok sukar masuk Islam kalau beliau melihat penampilan kaum muslimin lebih rendah nilainya dibandingkan non Moslem Jimmi. Padahal itu bukan fenomena Muslim benaran tetapi Muslim KTP alias munafikun. Pantasin seorang non Moslem harbi yang sudah menjadi Muslim masih saja keliru sepakterjangnya disebabkan sesungguhnya mereka belum menemukan Islam murni.

Kenapa kita kaum muslimin harus memilih Ahok?
Sebab pemimpin yang lain semuanya adalah Islam KTP, dimana setelah disumpah dengan kitab Qur-an, langsung korupsi alias mencuri harta kekayaan negara yang secara Islam adalah milik Rakyat seluruhnya.

Fenomena tersebut sudah lama terjadi di Indonesia hingga banyak para Alim yang membela pemimpin Islam KTP untuk menjadi pemimpin mereka. Ketika Jokowi dan Ahok muncul para koruptor yang mayoritas adalah pemimpin disetiap jajaran dan juga di lembaga Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif, merasa terhina dan terbongkar kepalsuan mereka. Makanya mereka yang merasa rugi berdaya upaya untuk menyingkirkan Ahok dan Jokowi, namun tidak berhasil disebabkan warga Jakarta sudah sadar kemunafikan para pemimpin yang korup itu.

Justeru itu mereka mengunakan al Maidah ayat 51 untuk menggeser Ahok agar mereka aman melakukan praktek korupsi. Ironisnya mereka yang bercokol di lembaga MUI pun bekerjasama dengan para pemimpin yang korup itu.

Sebagai penutub, sebaiknya pembaca meneliti juga ayat 69:
“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, Shabiin, dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS, 5, 69)






Dalam ayat tersebut Allah swt melarang kaum muslimin agar tidak berteman dengan Nasrani dan Yahudi yang beraliansi satu-sama lainnya (ini terindikasi sebagai Kafir Harbi) yang benci terhadap System Islam/Daulah Islamiyah dan kaum muslimin benaran tetapi mereka berkasih sayang dengan Muslim KTP. Fenomena tersebut juga terdapat dalam surah Al Baqarah ayat 6 dan 7: Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan (hai Muhammad) mereka tetap tidak meriman” (QS, 2: 6)

Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka. Dan penglihatan mereka ditutup rapat. Dan bagi mereka siksa yang pedih» (QS, 2, 7)

Ayat 7 diatas bukan ayat muhkamat. Realitanya mereka kan tidak pekak dan buta tetapi hati nurani merekalah yang buta (buta mata hati), hingga mereka mustahil beriman walaupun Rasulullah sendiri yang mendakwahkannya, konon pula kita manusia biasa yang berdakwah kepada mereka sama juga seperti kita berdakwah kepada kaum fanatikbuta dan kaum munafiqun. Namun realitanya banyak juga Nasrani dan sebahagian kecil Yahudi serta Hindu dan Budha yang masuk Islam, bukan?  Itulah fenomena kafir Jimmi, mereka tidak benci terhadap kaum muslimin benaran dan juga system Islam (baca Republik Islam Iran). Mereka yang Jimmi ini tidak termasuk fenomena ayat 6 dan 7 surah al Baqarah dan juga ayat 51 surah al Maidah.  Fenomena inilah yang tidak mampu dipahami oleh makh luk yang bercokol di lembaga MUI.

Berikut ini video PHilosof Sunni yang sama pemahamannya dengan kita dalam hal Surah al Maidah ayat 51, dimana ada 2 fenome6, 7 dan al Maidah ayat 51 adalah Kafir Harbi, sedangkan Ahok adalah Kafir Jimmi yang dekat persahabatannya dengan kaum Muslimin (lihat al Maidah ayat 82): “Sesungguhnya kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini adalah orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan diantara mereka itu (orang-orang Nasranna non Moslem (baca Harbi dan Jimmi), dimana masih banyak kaum muslimin yang keliru memahaminya. 




Billahi fi sabililhaq 

hsndwsp, Acheh - Sumatra 

di Ujung Dunia





http://ismail-asso.blogspot.com

08 Februari 2017

ISLAM ITU TIDAK CUKUP DIPAHAMI DENGAN KACAMATA SYAR’I TETAPI JUGA DENGAN KACAMATA IDEOLOGI, PHILOSOFI DAN ESENSI/HAKIKAT




SYAHID DR ‘ALI SYARI’ATI MENIMBA ILMU DALAM JUBAH ABU DZAR GHIFARI
YANG BUKAN SIAPA - SIAPA KECUALI MURID SETIA RASULULLAH DAN AHLULBAYTNYA
SAYA JUGA MENIMBA ILMU DARI SUMBER YANG SAMA
ILMU INI MENGANDUNG MUATAN HIKMAHNYA ISLAM
BUKAN SOFIANYA YAHUDI DAN NASRANI
DAN JUGA BUKAN NIRWANANYA HINDU DAN BUDHA

hsndwsp
Acheh - Sumatra
di
Ujung Dunia




 Bismillaahirrahmaanirrahiim

Di Indonesia sekarang para tokoh intoleran dan tidak berwawasan kemanusiaan serta terperangkap dalam pembelaan para koruptor baik secara sengaja atau tidak, telah menggunakan isue penodaan agama dan isue PKI untuk menggulingkan pemerintah Jokowi dan Ahok. Andaikata para hakim Indonesia dan segenap jajarannya masih orang-orang yang tidak memahami esensi keadilan dan agama Islam, besar kemungkinan Indonesia akan menjadi "Suriah dan Irak baru" yang menjadi medan perang Proxy.

Secara ideology, MUI yang membiarkan kaum mustadhafin hidup terlunta-lunta dan tidak memprotes saat penggusuran mereka di priode Suharto dan Yudhoyono adalah penoda agama terberat disisi Allah tetapi secara syar’i ala MUI tidak dianggap penodaan agama.

Ahok yang menolong kaum mustadhafin Jakarta dituduh menodai agama oleh syari’t ala Indonesia yang notabenenya adalah ajaran para Bal’am di lembaga MUI. Persekongkolan antara penguasa zalim (Jamaratul ‘ula), Karun (Jamaratul wus’a) dan Bal’am (Jamaratul ‘aqaba) di zaman Suharto dan Yudhoyono akan menghambat kesadaran Rakyat Indonesia untuk menggapai kesadarannya dalam beragama kecuali rakyat yang benar-benar memahami Esensi beragama, hingga pada merekalah Indonesia berkemungkinan menggapai secercah harapan.

Kini geleran Megawati yang dituduh menodai agama dan juga dituduh bekerjasama dengan PKI. Mungkin saja berikutnya tuduhan yang sama akan dialamatkan kepada Jokowi. Kendatipun kita pahami bahwa  DPR di Indonesia zaman Suharto dan Yudhoyono adalah Dewan Penipu Rakyat bukan Dewan Pembela/Perwakilan Rakyat tetapi sepertinya di zaman Jokowi – Ahok sekarang, DPR Indonesia sudah menampakkan kesadarannya untuk mewakili Rakyat via kepemimpinan Jokowi dan Ahok.

Secara Ideologis, Philosofis dan Esensi/Hakikat, apa saja aplikasi yang bertentangan dengan petunjuk Allah serta merugikan kemanusiaan adalah penodaan agama. Muslimah yang tidak tutup auratpun adalah penoda agama menurut Allah tetapi menurut  ajaran Bal’am di lembaga MUI itu tidak dianggap menodai agama makanya mayoritas penyiar  TV Indonesia tidak menutup auratnya. Ajaran MUI inilah yang saya maksudkan "Shiratal Mustaqim palsu" dimana ajaran tersebut bagaikan 2 sisi mata uang, yang satu bertuliskan nama Allah dan sisi lainnya bertuliskan Taghut. Orang beriman melihat sisi Taghutnya sedangkan orang awwam yang mengikuti bal’am hanya melihat sisi Allahnya saja. Dalam situasi seperti ini manusia membutuhkan para Ideolog yang berwajah merah bukan para Ilmuwan yang berwajah pucat.

Korupsi  adalah penodaan  agama terberat walaupun mendapatkan  legitimate undang-undang sekali pun. Itulah sebabnya Rasulullah saww memilih hidup sederhana kendatipun Allah memperkenalkan beliau kerajaan macam Nabi Sulaiman tanopa mengurangi haknya sedikitpun di Akhirat nanti. Kenapa Rasulullah tidak menerima kesenangan macam Nabi Sulaiman? Agar  pemimpin sepening galnya sadar bahwa kemewahan diatas penderitaan rakyat adalah suatu kezaliman dan pelakunya adalah penoda agama. Lalu kita bertanya-tanya bahwa diantara sekian banyak pemimpin yang mengaku diri semagai Muslim, mengapa baru Ahmadinejad  satu-satunya pemimpin yang tidak mau menerima gajinya dan bahkan tidak mau tinggal di Istana?  Gajinya dicukupkan sekedar honornya dari mengajar di suatu University. Apakah kita tidak mendapat undangan Allah untuk berpikir secara seksama dengan "fenomena seorang Ahmadinejad" agar kita terselamat dari api Neraka?

Yudhoyono dan seluruh pejabat yang hidup mewah serta para pencari kesenangan diatas penderitaan kaum mustadhafin adalah  penoda agama tereberat, bagaimana mungkin mereka merekayasa Ahok yang anti korupsi dan pembasmi korupsi di Indonesia bisa dipermainkan dan dituduh penista agama? Betapa zalimnya para Hakim dan segenap pihak yang beraliansi dengan para hakim  andaikata Ahok dipersalahkan dalam vonisnya nanti. Semoga para hakim priode Jokowi ini sudah berobah sebagaimana para tentara dan polisi. Hanya inilah harapan kita bersama Jokowi dan Ahok.

Ketika Indonesia menzalimi Rakyat Acheh disebabkan mereka menuntut haknya dibawah pimpinan DR Hasan Muhammad Ditiro, Allah mengirimkan Tsunami untuk mengundang masyarakat Dunia agar bisa melihat apa yang terjadi di Acheh kala itu. Sebahagian penduduk Dunia mengirimkan dana dan bantuan berupa barang yang memenuhi gudang-gudang di pelabuhan Sumatera Utara. Namun barang tersebut tidak pernah sampai ketangan para kaum mustadhafin Acheh yang sedang ditimpa musibah. Sedangkan dana berupa uang habis dilahap para koruptor yang mendapatkan legitimate Yudhoyono. Salahsatunya yang terbesar adalah Kuntoro Mangkusubroto yang diangkat Yudhoyono dengan dalih merehabilitasi Acheh paska tsunami. Selain Kuntoro, Yudhoyono juga beserta tokoh Acheh palsu mendapat kecipratan dana tersebut. Inilah yang namanya korupsi yang mendapat legitimate, apakah pembaca hanya bisa melihat sebatas ini? Insya Allah akan kita lihat lebih luas lagi andaikata kita termasuk orang-orang yang berpikiran kritis (critical thinking ).

Sebagai contoh pemikir yang kritis, ideologis dan philosofis, marilah kita bahas fenomena budak-budak modern sementara budak-budak ortodoks dapat disaksikan dalam video-video berikut ini:

Video nabi Yusuf 33



Manakah fenomena budak-budak modern? 
Allah swt mengutus para RasulNya untuk melepaskan kaum mustadhafin dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka (QS,7:157 & QS, 90:12-18).  Disamping itu para Rasul juga mengajarkan ummahnya tentang perkara halal dan haram (baca Hablum minallah dan hablum minannas).  Allah memfokuskan petunjukkNya pada hablum minannas (tidak menerima hablum minallah bagi hambaNya yang tidak berhablum minannas) Inilah agama 2 dymensi. Para Bal’am di lembaga MUI hanya berhablum minallah saja sedangkan hablum minannas mereka aplikasikan sebatas kulitnya saja (baca sekedar bersalaman pada hari raya haji dan shaum). Mereka tidak pernah tau kalau masih ada hari raya terbesar yang tidak disebabkan ibadah Haji dan shaum tetapi disebabkan perpanjangan keimamahan Rasulullah sendiri di Ghadirkhum agar ummahnya mampu mendeteksi Shiratal Mustaqim Murni/Sejati. Mengapa para Bal’am melalukan hanya sebatas tersebut?  Hal ini disebabkan mereka dan pengikut setianya tidak beragama secara benar (baca mereka hanya ber Shitatalmustaqim palsu). Akibat salah dalam berhablum minannas, maka dalam berhablum minallahpun rusak  secara otomatis.

Perlu digarisbawahi bahwa fi sabilinnas sama dengan fisabilillah. Bagaimana mungkin manusia hendak menolong Allah swt sedangkan manusia pasti tau bahwa Allah tidak butuh pertolongan dari makhlukNya. Sebaliknya manusia juga melihat ayat-ayatNya, Dia berkata bahwa barang siapa menolongNya, Dia akan menolong orang tersebut. Apakah kita terlalu sukar memahami maksud Allah di ayat-ayat tersebut?  Ketika kita menolong kaum mustadhafin bermakna kita telah menolong Allah. Inilah makna pemahaman manusia sejati yang beriman kepada Allah swt bukan sekedar memperbanyak Ibadah ritual saja (baca hanya berkhusuk sepi di relung-relung mesjid) sementara kaum mustadhafin yang merintih di gubuk-gubuk derita dalam hidupnya tidak ada yang mau menolong. Ketika ada pihak yang menolong mereka dan melenyapkan para koruptor (baca pencuri berdasi), sebahagian tokoh Indonesia beraliansi dengan para Bal’am, merekayasa agar orang tersebut dapat digulingkan dengan tuduhan penistaan agama. Adalah hal yang sama telah direkayasa terhadap setiap pimpinan KPK dengan persekongkolan "Fir’un, Karun dan Bal’am" huingga mereka yang benar berada di penjara dan yang salah bisa ketawaria.

Allah, Tuhannya kaum mustadhafin mengamanahkan kepada setiap orang yang berilmu agar menggunakann ilmunya untuk membebaskan kaum mustadhafin dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka tetapi para ilmuwan yang tidak beriman tanpa sadar bersedia menjadi budak-budak modern. Setelah mereka menamatkan pendidikannya, segera berbaris hampir disetiap kota-kota besar dunia agar mendapat tawaran yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Para pembeli budak modern menawarkan harga mereka yang aduhai. Yang pertama mengatakan bahwa kalau anda mau bekerja pada perusahaan saya akan menerima gaji yang besar. Lalu datang pembeli kedua mengatakan bahwa siapa yang bekerja pada saya disamping gaji yang tinggi juga rumah mewah. Kemudian datanglah pembeli ketika mengatakan bahwa dia sanggup memberikan gaji yang tinggi, rumah mewah dan kenderaan yang luck. Akhirnya para budak modern tersebut termangut-mangut memilih tuannya yang sanggup memberikan segalanya yang aduhai dan lupalah mereka pesan Allah untuk menolong kaum mustadhafin, sebaliknya hanya memikirkan keluarganya, berhablum minallah secara salah dan selalu berdo’a agar gajinya dinaikkan setiap tahun serta karirnya meningkat tajam. Untuk tercapai kehendaknya mereka siap melakukan apa saja demi menggapai tujuannya termasuk mempertuhankan atasannya. 


Kesimpulan:
Apa saja yang melanggar aturan agama yang haq adalah kezaliman dan setiap kezaliman adalah penodai agama. Bal’am yang bercokol di lembaga MUI adalah penempuh shIratalmustaqim palsu yang telah digoreskan Rasulullah diatas pasir dengan goresan yang lurus dan tebal tetapi dalam garis lurus dan tebal tersebut Rasulullah juga membuat garis kecil yang bergelombang bagaikan tumbuhan menjalar yang melingkari pohon petai. Mereka yang tidak kritis tidak mampu melihat garis kecil yang berkelok-kelok itu. Mereka yang menimba ilmu dari para Bal’am mengira itulah shiratal mustaqim hingga yakin benar bahwa mereka berada pada jalan yang lurus dalam "bahtera Taghut yang Zalim".



Billahi fi sabililhaq
hsndwsp
Di Ujung Dunia

AHOK YANG BRILLIAN




TIM PEMBELA AHOK YANG MANTAP
MEMBUKTIKAN KELIRUNYA SAID 'AQIL 
DI VIDEO BERIKUTNYA




Dengarkan apa kata Jalauddin Rahmat:



http://ismail-asso.blogspot.com

21 April 2015

"SYI’AH" DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS



Dari blog "Islam itu Cinta"; Rabu, 2 Maret 2011

“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan imamnya; dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun” (QS. Al-Israa: 71)

Pada hari pengadilan akhirat, takdir dari setiap orang yang mengikuti para imamnya yang dipercayainya akan tergantung dari imam-imam yang dipercayainya itu apabila ia memang benar-benar mengikuti para imam yang ia percayai itu. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa ada dua jenis imam yang diikuti dan diyakini oleh para pengikutnya. Ada imam yang mengajak manusia untuk masuk ke dalam api neraka. Untuk kategori ini adalah para pemimpin yang dzalim dan tiran di masanya seperti Fir’aun, misalnya.

“Dan Kami jadikan mereka para imam yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.

Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS. Al-Qashash: 41—42)

Al-Qur’an sudah memberikan peringatan kepada orang-orang yang mengikuti para imam yang dzalim dan para pengikut imam seperti itu akan mendapatkan takdir buruknya kelak di akhir zaman. Mereka akan digabungkan dengan para imamnya itu dalam jahanam.

Di sisi lain Al-Qur’an juga memberikan informasi tentang adanya Imam-Imam yang memang ditunjuk oleh Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar. Lihatlah ayat berikut ini:

“Dan Kami JADIKAN di antara mereka itu IMAM-IMAM yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

(lihatlah kata-kata JADIKAN dan IMAM-IMAM yang menjelaskan secara tegas tentang jabatan Imam yang ditunjuk oleh Allah dan bukan oleh manusia. Dan mereka memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan nabi walaupun tidak membawa kitab suci yang baru).

Dengan melihat ayat-ayat tersebut di atas, maka kita bisa simpulkan bahwa para pengikut dari Imam-Imam yang mendapat mandat dari Allah itu akan menemui kebahagiaan di akhirat kelak. Jadi kalau kita menjadi pengikut seorang imam maka itu tidak berarti apa-apa kalau yang kita ikuti itu adalah seorang imam yang tidak mendapatkan mandat dari Allah. Jadi akhir yang baik dan yang buruk bagi kita di akhirat kelak itu ditentukan dari siapakah imam yang kita ikuti dan patuhi selama kita hidup di bumi.

Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa beberapa hambaNya yang haq adalah juga pengikut (Syi’ah) bagi para hambaNya yang lain. Seperti pernah dijelaskan Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim itu adalah pengikut (Syi’ah) dari Nabi Nuh.

“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)” (QS. Ash-Shaaffaat: 83)

(Lihatlah kata "Syi’ah" yang dipakai secara jelas sekali oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan kata itu huruf demi huruf dalam ayat tersebut di atas dan juga dalam ayat berikut ini)

Dalam sebuah ayat dalam Al-Qur’an diceritakan tentang pengikut (?????) Nabi Musa melawan musuh-musuh dari Nabi Musa. Lihatlah ayat berikut dan lihatlah penggunaan kata SYI’AH untuk ayat tersebut:

“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari SYI’AHNYA (pengikutnya)(Bani Israel) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari SYI’AHNYA (pengikutnya) meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya) (QS. Al-Qashash: 15)

Di dalam ayat Al-Qur’an di atas ada orang  yang disebut sebagai pengikut Nabi Musa (atau SYI’AH MUSA) dan orang yang satunya lagi disebut sebagai musuh dari Nabi Musa. Orang-orang pada jaman bisa dibagi kedalam dua kelompok: kelompok SYI’AH MUSA atau kelompok MUSUH MUSA.

Dengan kata lain bisa kita simpulkan bahwa Allah secara resmi menggunakan kata SYI’AH dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan pengikut para Nabi dan sekaligus para Nabi itu sendiri (masih ingat Nabi Ibrahim yang disebut sebagai SYI’AH—pengikut—dari Nabi Nuh?). Allah menggunakan kata SYI’AH ini dengan segenap penghormatan kepada para hambaNya yang shaleh. Apakah dengan itu kita membuat Nabi Ibrahim itu sebagai seorang sektarian? Bagaimana dengan Nabi Nuh dan Nabi Musa?

Kata "Shiah" itu sendiri artinya “pengikut” atau “anggota dari sebuah kelompok”. Sementara itu kata SYI’AH sendiri sebenarnya tidak mengandung sifat positif atau negatif. Kata itu akan bersifat negatif atau positif apabila kata itu disandingkan dengan nama seorang pemimpin tertentu.

Apabila seorang pengikut (SYI’AH) itu mengikuti para hamba Allah yang haq, maka tidak ada salahnya dengan kata SYI’AH itu apalagi mengingat imam yang ia ikuti itu adalah imam yang diberikan mandat langsung oleh Allah untuk membimbing umat manusia. Sementara itu apabila seseorang itu telah menjadi seorang pengikut (SYI’AH) dari seorang tiran yang kejam; seorang pemimpin yang tidak berperikemanusiaan; seorang pemimpin yang korup bukan kepalang, maka ia akan menemui takdir buruknya bersama dengan imam yang diikutinya.

SEKARANG PERKENANKANLAH SAYA MENGAJUKAN BEBERAPA PERTANYAAN:
APABILA SAUDARA KITA DARI KALANGAN AHLUSSUNNAH JUGA MENGAKU SEBAGAI PENGIKUT ALI MAKA:

Mengapa mereka tidak menyebut diri mereka sebagai Syi’ah Ali (pengikut Ali)? Bukankah mereka juga mengaku-aku sebagai pengikut Ali?

Apabila mereka mengaku dan menganggap dirinya sebagai pengikut Mu'awiyyah, mengapa mereka tidak mengubah nama kelompok mereka (AHLUSSUNNAH) menjadi Syi’ah Mu’awiyyah? Mengapa mereka malah malu-malu menyebut diri sebagai pengikut Mu’awiyyah dan malah menyebut kelompok mereka sebagai kelompok Sunni?

Siapakah yang telah memberi mereka nama SUNNI atau AHLUSSUNNAH?

Apabila Allah yang telah memberikan mereka nama (SUNNI/AHLUSSUNNAH) itu (seperti nama SYI'AH yang digunakan Allah dalam Al-Qur’an), lalu bisakah mereka menunjukkan kepada kita ayat mana yang menggunakan nama golongan mereka?

Apabila nama kelompok SUNNI/AHLUSSUNNAH itu diberikan oleh Rasulullah, maka tunjukkanlah haditsnya dimana Rasulullah menyebutkan nama SUNNI atau AHLUSSUNNAH?

PADA KENYATAANNYA  YANG TERJADI IALAH KATA “SUNNI” ATAU “AHLUSSUNNAH” ITU TIDAK PERNAH DIDAPATI BAIK DALAM AL-QUR’AN MAUPUN DALAM HADITS YANG DISAMPAIKAN OLEH RASULULLAH.

Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang disebutkan di atas menggunakan bentuk tunggal (singular form) yaitu hanya menunjuk pada satu kelompok saja. Jadi artinya ialah kata ini sangatlah khusus dan digunakan untuk tujuan khusus oleh Allah. Allah menuliskan kata SYI’AH NUH (pengikut nabi Nuh) kemudian SYI’AH MUSA (pengikut nabi Musa) dengan tujuan bahwa kata SYI’AH itu akan dipahami sebagai pengikut orang baik-baik. Pengikut para Nabi. Pengikut para wali Allah yang suci. Pengikut Rasulullah. Pengikut keluarga Nabi. Kata SYI’AH itu dipergunakan Allah untuk menyebut satu kelompok saja yaitu kelompok yang beserta kebaikan dan untuk kelompok lawannya Allah menggunakan kata yang lain seperti kata "musuhnya". Al-Qur’an tidak menyebut dua kelompok sebagai SYI’AH MUSA dan SYI’AH FIR’AUN. Jadi Allah hanya mengakui satu kelompok saja yang Allah berinama SYI’AH untuk disandingkan dengan nama para Nabi dan para nama Wali Allah.

Dalam sejarah Islam, kata SYI’AH (pengikut) telah secara khusus digunakan sebagai “Pengikut Ali” (SYI’AH ALI). Dan orang yang mengeluarkan istilah PENGIKUT ALI ialah Rasulullah sendiri!

Rasulullah telah berkata kepada Imam Ali:

“Kesejahteraan dan kebahagiaan bersamamu, ya Ali! Sesungguhnya engkau dan Syi’ahmu (pengikutmu) semuanya akan masuk surga”

Lihat hadtis tersebut dalam referensi AHLUSSUNNAH atau SUNNI seperti dalam kitab-kitab:

Fadha’il al-Sahaba, oleh Ahmad Ibn Hanbal, volume 2, halaman 655
Hilyatul Awliyaa, oleh Abu Nu’aym, volume 4, halaman 329
Tarikh, oleh Al-Khatib al-Baghdadi, volume 12, halaman 289
Al-Ausath, oleh At-Tabarani

Rasulullah sendiri menggunakan kata-kata SYI’AH ALI ketika beliau masih hidup (tentunya!). Kata-kata ini bukanlah kata-kata yang dibuat di kemudian hari. Kata-kata ini benar-benar keluar dari mulut Nabi yang suci. Rasulullah berkata bahwa PENGIKUT ALI YANG SETIA akan masuk surga, dan ini tentunya adalah kesempatan yang berharga untuk dilewatkan begitu saja!

Jabir Ibn Abdillah Al-Ansari meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “SYI’AH ALI akan menjadi kelompok pemenang di hari kebangkitan nanti”.

Lihat referensi dari hadits tersebut di atas dalam referensi AHLUSSUNNAH atau SUNNI:

Al-Manaqib Ahmad seperti yang juga termaktub dalam
Yanabi al-Mawaddah, oleh Al-Qunduzai al-Hanafi, halaman 62
Tafsir Al-Durr al-Mantsuur, oleh Al-Hafidh Jalaluddin As-Suyuthi

KATA “SYI’AH” TELAH TERBUKTI ADA DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS NABI. APABILA KELOMPOK SUNNI ATAU AHLUSSUNNAH TIDAK BISA MENGEMUKAKAN BAHWA KATA-KATA “SUNNI” ATAU “AHLUSSUNNAH” ITU ADA DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS NABI,
MAKA SESUNGGUHNYA AGAMA YANG MEREKA PERCAYAI ITU ADALAH AGAMA BUATAN SEMATA! DAN ITU TERMASUK BID’AH YANG BESAR! AGAMA YANG DISISIPKAN KEDALAM ISLAM SETELAH MENINGGALNYA RASULULLAH AL-MUSTAFA.
KEBENARAN TELAH TERSAMPAIKAN ……………SEKARANG KEPUTUSAN ADA DI TANGAN ANDA!


26 komentar:

Agus Muslih mengatakan...
Artikel tersebut semakin menegaskan adanya " kepemimpinan Illahi " dalam Islam atau jabatan Ilahiyah yang Allah SWT anugrahkan kepada orang orang pilihan dianatara hamba 2 nya yang saleh sebagaimana diyakini syiah, sedangkan di sunni pada umumnya berpedoman pada "musyawarah" atau memilih sendiri imam dan pemimpinnya. hal ini pula yang menyebabkan adanya perbedaan dalam memaknai "ULIL AMRI MINKUM". Jika di perhatikan dalam Al Quran, urusan membersihkan pakaian dan mencatat utang yang pengaruhnya hanya untuk 1-2 orang saja diarahkan oleh Allah SWT, apalagi masalah kepemimpinan yang dampaknya kepada masyarakat luas! , demikian biasanya syii memperkuat argumen. Dan saat semua menyadari bahw tidak ada paksaan dalam agama, artinya yang tersisa adalah sebuah pilihan dan kita oleh nash hanya disuruh memilih pendapat yang terbaik, sambil tetap menjaga persatuan, saling menghormati, dan terhindar dari tepecah belah.

...Lanjutkan Membaca

http://cahyono-adi.blogspot.no/2013/08/syiah-dalam-al-quran-dan-hadits.html#.VTagc6aPJNI
http://ismail-asso.blogspot.com


26 Juni 2013

KILAS BALIK REVOLUSI ISLAM IRAN AGAR PENAMPILAN SORBAN TIDAK IDENTIK DENGAN MAHKOTA YANG DIPAKAI SANG RAJA.


SYAHID DR ALI SYARIATI MEMILIKI PIKIRAN YANG SANGAT TAJAM
LEBIH TAJAM DARI "PEDANG SISINGAMANGARAJA"
hsndwsp
Acheh - Sumatra



Bismillaahirrahmaanirrahiim

Revolusi Iran
1 Reply


1.1. Latar Belakang Masalah
Revolusi Iran adalah contoh paling spektakuler di dunia Islam, bagaimana agama mampu memberi kekuatan bagi gerakan revolusioner untuk menumbangkan kekuasaan tiranik dan despotik. Bahkan tidak sekedar menumbangkan kekuasaan, tetapi lebih mendasar dari itu, mengganti sistem politik lama (monarki) dengan sistem politik baru (wilâyah al-faqîh). Banyak kalangan menyebut revolusi ini sebagai “salah satu pemberontakan rakyat terbesar dalam sejarah umat Islam”.[1] Kesuksesannya dapat disejajarkan dengan Revolusi Prancis (1789) atau Revolusi Bolshevik Rusia (1917).[2]

Revolusi yang telah berlangsung di Iran tahun 1978-1979 dan menghasilkan pemerintahan Islam yang berlangsung sampai hari ini, mengangkat banyak isu yang terkait dengan kebangkitan Islam kontemporer: keyakinan, kebudayaan, kekuasaan, dan politik dengan penekanan pada identitas bangsa, keaslian budaya, partisipasi politik, dan keadilan sosial disertai pula dengan penolakan terhadap pembaratan (gharbzadegi/westoxication), otoriterisme kekuasaan, dan pembagian kekayaan yang tidak adil. Inilah “the real revolution” yang digerakkan oleh seluruh lapisan masyarakat dan dipimpin oleh para tokoh agama.

Keterlibatan para mullah dalam gerakan revolusioner menumbangkan Dinasti Pahlevi yang berkuasa di Iran mulai tahun 1925-1979, merupakan fenomena menarik dan unik jika dilihat dari perspektif sejarah sosial-politik Syi’ah. Syi’ah sebagai madzab resmi Iran sejak Dinasti Safavi menekankan artikulasi politik yang lebih akomodatif terhadap kekuasaan. Perilaku para pengikut Syi’ah sejak lama terpola dalam tradisi taqiyeh (dissimulation)[3] dan quietisme[4]. Apa yang telah ditampakkan oleh para mullah dan pengikutnya yang terlibat dalam gerakan revolusi adalah pergeseran orientasi sikap keberagamaan dari pasivisme menanti datangnya Imam Mahdi ke arah gerakan kongkret dan pro-aktif dalam melawan kesewenang-wenangan dan ketidakadilan. Di sinilah tampak peran para reformer ideologi Syi’ah kontemporer yang berhasil memperbaharui ajaran Syi’ah.

Syi’ah sebagai madzab resmi Iran menjadi identitas nasional dan sumber legitimasi politik sejak abad keenam belas. Islam Syi’ah telah terlibat dalam percaturan politik sejak kemunculannya dan karena itu memiliki sejarah dan sistem kepercayaan yang dapat ditafsirkan dan dimanfaatkan dalam krisis politik. Tetapi sejak ditetapkan sebagai madzab resmi pada Dinasti Savafi, ajaran Syi’ah Imâmiyah (aliran mainstreem dalam Syi’ah) memiliki kecenderungan apolitis dan terlalu kooperatif dengan penguasa negara.[5] Wacana keagamaan yang diusung para ulama berkutat pada masalah-masalah ringan dan fiqh oriented dari pada masalah sosial-politik yang memiliki jangkauan spektrum lebih luas. Julukan untuk mereka adalah para akhund, sebuah istilah pejoratif untuk menyebut ulama yang berpengetahuan dangkal.

Dalam tradisi Sunni, ulama model itu juga menjadi fenomena dominan dalam konstelasi politik negara-negara berbasis madzab sunni. Ulama-ulama Wahhabi, misalnya, posisi sosio-politik mereka telah terhegemoni oleh sistem politik kerajaan Saudi. Wahabi menjadi madzab resmi Kerajaan Saudi Arabia sehingga ia adalah sumber legitimasi bagi penguasannya. Wahabi yang pada awal-awal kelahirannya sangat kritis, telah berubah menjadi sekadar lembaga stempel bagi kekuasaan sang Raja. Agama dalam kondisi seperti ini seolah mati suri karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk merubah sejarah umat manusia. Agama telah kehilangan elan vital sebagai sumber inspirasi untuk membela yang lemah dan memerangi kemungkaran (depotisme).

Ali Syari’ati, salah satu dari sedikit para pemikir Iran yang sangat gundah dengan fenomena “kematian agama (syi’ah)”. Apalagi latar historis saat Syari’ati tumbuh berkembang menjadi intelektual terkemuka adalah kekuasaan Syah Reza Pahlevi yang mengumbar ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Di saat para ulama Syi’ah kebanyakan bungkam atau mengambil sikap diam dan menjaga jarak dengan dengan sosio-politik kala itu, Syari’ati tampil untuk melontarkan gagasan-gagasan radikal tentang oposisi dan revolusi yang bersumber dari ajaran Syi’ah yang sudah dicangkokkan dengan tradisi revolusioner Dunia Ketiga dan Marxisme. Ali Syari’ati berhasil membangun ideologi Islam revolusioner yang lantas ditawarkan sebagai ideologi alternatif atas kecenderungan Marxis dan nasinalis-sekular yang banyak digemari kalangan muda Iran.

Ali Syari’ati mengecam para ulama yang telah menjadikan Syi’ah semata-mata sebagai agama berkabung dengan mengubah arti hakiki peristiwa Karbala. Ulama, menurut Syari’ati telah mengkhianati Islam dengan “menjual diri” kepada kelas penguasa, dengan begitu ulama telah mengubah Syi’ah dari kepercayaan revolusioner menjadi ideologi konservatif; menjadi agama negara (dîn-i dewlati), yang paling tinggi hanya sebabatas menekankan sikap kedermawanan (philantropism), paternalisme, pengekangan diri secara sukarela dari kemewahan[6].

Syari’ati lebih jauh menilai, hubungan khusus ulama semacam itu telah menjadikan mereka sebagai instrumen kelas-kelas berharta. Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dikelola ulama dibiayai kaum kelas berharta untuk mencegah ulama berbicara tentang perlunya menyelamatkan kaum miskin dan mereka yang tertindas (mustad’afîn). Sebaliknya, dengan menggunakan doktrin tentang fiqh ekonomi, ulama merupaya mengabsahkan eksploitasi yang menurut Syari’ati lebih eksploitatif dibandingkan dengan kapitalisme Amerika. Islam di tangan ulama itu telah menjadi khordeh-I burzhuazi (borjuasi kecil).[7]

Masih menurut Syari’ati, banyak ulama berpandangan sangat picik (ulamâ-i qisyri), yang bisa bisa mengulang-ulang doktrin fiqih secara bodoh. Mereka memberlakukan Kitab Suci sebagai lembaran kering, tanpa makna, sementara pada sisi lain asik dengan isu-isu yang tidak penting seperti soal pakaian, ritual, panjang pendeknya jenggot dan semacamnya. Akibatnya ulama gagal memahami makna istilah-istilah kunci seperti ummah, imâmah, dan nizâm al-tauhîd.[8] Ulama yang digambarkan Syari’ati itu lebih cenderung fiqh oriented dan senang bergumul dengan wacana khilâfiyah yang semua itu tidak terkait dengan problem real masyarakat. Kemisminan, kebodohan dan keterbelakangan serta penindasan menjadi isu yang tak tersentuh (untouchtable) dalam alam pikiran para ulama sehari-hari, karena mereka lebih disibukkan dengan polemik wacana fiqhiyyah yang tidak urgen.

Kecenderungan ulama seperti gambaran di atas akan menguntungkan posisi penguasa, karena aspek-aspek penyelewengan kekuasaan, praktek ketidakadilan dan kebijakan yang hanya menguntungkan diri sendiri menjadi lepas dari kontrol dan kritik ulama. Maka tidak aneh jika pihak penguasa menyediakan dana yang cukup untuk aktifitas ulama model ini, karena semakin ulama tidak independen, akan lebih memudahkan para penguasa melakukan kontrol terhadap aktivitas mereka. Kolaborasi semacam ini yang telah terjadi di Iran sebelum revolusi, dimana rezim Syah banyak memanfaatkan ulama untuk melakukan counter balik terhadap wacana kritis yang dilontarkan para kaum oposisi. Termasuk di antara kaum oposisi itu, Ali Syari’ati adalah salah satu tokoh pentingnya.

Berada dalam pusaran oposisi vis-à-vis kekuasaan rezim Syah dan ulama konservatif, Ali Syari’ati banyak menuai kritik bahkan hujatan dan fitnah dari beberapa ulama. Mereka pada umumnya menuduh Syari’ati menyesatkan dan menipu kaum muda mengenai ajaran Islam sejati versi Syari’ati. Ulama sumber panutan (marja’ taqlid) seperti Ayatullah Khu’i, Milani, Ruhani dan Thabathaba’i, bahkan mengeluarkan fatwa yang melarang membeli, menjual dan membaca tulisan Syari’ati.[9] Mereka menganggap tulisan-tulisan Ali Syari’ati, khususnya dalam bukunya Eslamshenasi (diterjemahkan dalam bahasa Inggris: Islamology), telah menyimpang dari tradisi Islam Syi’ah karena menggunakan sumber-sumber non-Syi’ah.[10]

Ali Syari’ati adalah contoh intelektual sui generis yang berani dalam posisi melawan mainstreem politik maupun pemikiran Islam. Ia dapat disejajarkan dengan para pembaharu Sunni pendahulunya, seperti Jamal al-Din al-Afghani (w.1897), Muhammad Abduh (w. 1905) atau Muhammad Iqbal (w.1938). Sama dengan Syari’ati, mereka adalah pembaharu pemikiran Islam dan sekaligus para oposan yang sangat kritis dengan fenomena ketidakadilan dan imperialisme Barat. Yang membedakan antara Syari’ati dengan ketiga tokoh Sunni itu adalah bahwa Syari’ati lebih radikal dalam mengimplementasikan pemikiran-pemikiran pembaharuannya dan ini yang perlu mendapat catatan tebal sejarah pembaharuan Islam, bahwa Syari’ati dengan gagasan revolusinya berhasil menarik gerbong oposisi di kalangan masyarakat Iran untuk melawan rezim yang berkuasa sampai akhirnya gerakan oposisi itu berhasil melakukan revolusi bersejarah tahun 1979.

Ali Syari’ati dan Revolusi Iran adalah dua hal yang sulit untuk dipisahkan. Walau dia meninggal dunia beberapa saat sebelum revolusi itu benar-benar terwujud, tepatnya tanggal 19 Juni 1977, gema revolusi yang dia kampanyekan di Iran sampai akhir hayatnya, mendapat sambutan yang antusias dari massa pengunjak rasa pada puncak gerakan revolusi 1978-1979. Poster-poster Ali Syari’ati bersanding dengan poster tokoh revolusi lain seperti Mossadeq dan tentunya Khomeini, diusung sepanjang demonstrasi besar-besaran melawan Rezim Syah. Bahkan beberapa kalangan menyebut Syari’ati lebih mempunyai peran dalam Revolusi Iran ketimbang Khomeini, misalnya, yang munculnya pada saat-saat setelah secara efektif revolusi berakhir. Zayar dalam bukunya Iranian Revolution: Past, Present, and Future, bahkan menuduh Khomeini sebagai pembajak Revolusi Iran dari para pejuang pra-revolusi.[11]

Bertitik tolak dari latar belakang tersebut, peneliti menemukan titik urgensi penelitian tentang pemikiran Ali Syari’ati, khususnya yang terkait dengan Islam dan revolusi. Syari’ati adalah prototype cendekiawan Islam yang melaju diantara pusaran konservatisme pemikiran Islam yang menekankan Islam sebagai agama yang terpisah dengan persoalan-persoalan real di masyarakat, dan sekularisme pemikiran yang begitu terpesona dengan modernisme Barat dan meninggalkan Tradisi Suci Agama. Syari’ati menawarkan model lain (the third way, dalam istilah Antoni Gidden), yaitu Islam revolusioner, Islam yang mengambil posisi sebagai jalan revolusi menuju pembebasan umat atas segala macam bentuk ketidakadilan dan penindasan. Syari’ati berhasil menggali nilai-nilai revolusioner Islam yang selama ini terkubur oleh ortodoksi, yang dalam konteks ajaran Syi’ah, Syari’ati telah merevolusi doktrin Syi’ah dalam bentuknya yang lebih progresif. Simbol-simbol penting Syi’ah seperti asy-Syûra, Karbala, Syâhid diposisikan kembali dalam wacana perlawanan seperti semula.

Penelitian ini juga akan menggali lebih eksploratif tentang pengaruh pemikiran revolusioner Ali Syari’ati dalam Revolusi Iran 1979. Keberhasilan Revolusi Iran tidak bisa lepas dari keberhasilan revolusi doktin Syi’ah. Dan salah satu tokoh penting yang terlibat dalam proyek revolusi doktrin Syi’ah itu adalah Ali Syari’ati.

1.2 Rumusan Masalah
Atas dasar latar belakang di atas, pokok masalah yang akan menjadi fokus penelitian ini adalah: “Bagaimana pemikiran Ali Syari’ati tentang Islam dan revolusi serta pengaruhnya terhadap Revolusi Iran?”.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk menemukan jawaban dalam pokok masalah yaitu bagaimana pemikiran Ali Syari’ati tentang Islam dan revolusi dan pengaruhnya terhadap revolusi Iran 1979. Mengetahui pemikiran tokoh ini penting dilakukan mengingat Syari’ati adalah ikon intelektual Muslim yang gigih memperjuangkan mereka yang tertindas dan teraniaya lewat tulisan-tulisan dan aksi-aksi politik yang kritis dan tajam. Karya-karya intelektual Syari’ati tidak sekedar ungkapan emosional dari wakil rakyat tertindas, tetapi mempunyai bobot akademik yang tinggi sehingga upaya-upaya kritis dalam studi atas pemikiran Syari’ati diharapkan akan melahirkan pemikiran baru yang lebih segar dan progresif untuk menjawab tantangan politik Islam kekinian yang lebih kompleks.

Di tengah-tengah diskursus politik Islam yang belum tuntas, antara yang pro negara Islam atau sebaliknya, studi pemikiran Ali Syari’ati seolah keluar dari diskursus itu. Pemikiran politik Ali Syari’ati tidak mau terjebak kepada pro-kontra formalisme negara Islam, tetapi lebih menekankan pada aspek relasi kritis rakyat-penguasa. Aspek ini disinyalir lebih berguna untuk dieksplorasi lebih dalam dalam rangka membangun konsep teoritis bagaimana rakyat dapat membatasi, mengontrol, sekaligus mengganti –jika diperlukan- para penguasa.

Lebih dari itu semua, penelitian ini dimaksudkan untuk merekonstruksi pemikiran revolusioner Ali Syari’ati yang akan berguna untuk membangun pemikiran politik Islam kontemporer yang aplikatif dan aktual yang tidak terjebat pada wacana elite, tetapi lebih dekat pada wacana grassroot. Oposisi, revolusi dan kata-kata lain yang sepadan dengan itu adalah term-term perlawanan rakyat yang ingin merdeka dan mandiri, sehingga hasil dari penelitian ini akan menjadi panduan normatif dan aplikatif bagi komponen-komponen perlawanan rakyat sekaligus diskursus tingkat lanjut pemikiran politik Islam di ruang-ruang akademis.

BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA

Pemikiran Ali Syari’ati yang revolusioner mengundang perhatian orang untuk mengkaji lebih dalam hubungan pemikirannya dengan para pemikir revolusioner sebelumnya. Para pengkaji pun lantas mengaitkan Syari’ati dengan Marx dalam satu pola hubungan geneologis pemikiran. Hasilnya pun bisa ditebak, bahwa Syari’ati sedikit banyak terpengaruh oleh pemikiran Marx, khususnya yang terkait dengan bagaimana menganalisis ketimpangan sosial dalam masyarakat. Sehingga beberapa kalangan menyebut proyek pemikiran Syari’ati adalah Islamisasi Marxisme atau Marxisisasi Islam.

Eko Supriyadi adalah salah satu dari peneliti Indonesia yang telah berusaha mengkaji pengaruh Marxisme dalam pemikiran Ali Syari’ati. Dalam penelitiannya yang telah diterbitkan menjadi buku yang berjudul Sosialisme Islam: Pemikiran Ali Syari’ati, Eko berupaya menelusuri akar-akar geneologis pemikiran sosialisme Ali Syari’ati pada pemikiran Marxisme. Dalam temuannya Supriyadi menyatakan bahwa ada pengaruh Marx dalam pemikiran Syari’ati, tetapi Syari’ati menerima pemikiran Marx dengan kritik dan ia menawarkan sintesa antara Marxisme dan Islam.[12] Salah satu yang dikritik Syari’ati dalam rancang bangun pemikiran Marx adalah kecenderungannya yang menafikan segala bentuk spiritualitas, yang dengan begitu menafikan agama, sekaligus Tuhan. Penelitian lain yang agak mirip dengan karya Eko Supriyadi adalah yang dilakukan oleh Munawar Anwar Firdausi dengan judul Analisis Tipologi Pemikiran Karl Marx dalam Pandangan Ali Syari’ati yang dia ajukan sebagai tesis di pascasarjaan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2004.

Kedua penelitian di atas lebih menekankan pada pengaruh pemikiran Marxisme dalam pemikiran Syari’ati dan kritik Syari’ati terhadap Marxisme. Penelitian itu tidak memotret secara utuh bagaimana wacana Islam dan politik yang diusung Syari’ati apalagi mengaitkannya dengan revolusi Iran. Tetapi paling tidak dari penelitian itu dapat dilacak akar geneologis pemikiran revolusioner Syari’ati, sehingga lebih memudahkan untuk merekonstruksi pemikirannya dan mengaitkannya dengan revolusi Iran 1979.

Adalah terlalu sempit jika memposisikan Syari’ati sebatas tokoh yang mampu mensitesakan antara Islam dan Marxisme. Realitas sosial, politik dan budaya yang melingkupi Syari’ati dalam menelorkan karya-karya intelektualnya begitu komplek. Rezim Syah Pahlevi yang despotik, ajaran-ajaran Islam (Syi’ah) yang dibonsai ulama resmi menjadi sebatas ajaran ritual, serta kondisi umum masyarakat Islam yang berada dalam cengkraman hegemoni Barat adalah fenomena penting yang membentuk karakter pemikiran Syari’ati, sehingga wajar jika tampak karakter revolusioner dalam pemikirannya. Ali Syari’ati tergelisahkan oleh kondisi umat yang terus-menerus diposisikan sebagai pihak yang teraniaya (mustal’afîn), dan karya-karya Syari’ati seolah mewakili suara-suara itu.

Ali Rahmena yang telah melakukan pembacaan cukup komprehensif atas beberapa karya penting Syari’ati dalam bukunya Pioneer of Islamic Revival yang dalam edisi Indonesia oleh penerbit Mizan diberi judul Para Perintis Zaman Baru Islam. Buku Rahmena mereview pemikiran-pemikiran Syari’ati yang tertuang dalam beberapa karya penting, diantaranya adalah Eslamshenasi (Islamologi) dan Kavir (Gurun).[13]

Tulisan Rahnema cukup lengkap sebagai tulisan yang memotret sejarah kehidupan Ali Syari’ati yang sarat dengan petualangan khas seorang revolusioner. Penelitian ia yang bersumber dari data primer akurat dan berbahasa asli (Persia) memungkinkan Rahnema untuk menganalisis secara lebih tajam fenomena kesejarahan pemikiran dan aktivitas politik Syari’ati. Tetapi karena tulisan itu hanya sebuah tulisan biografi, bangunan pemikiran Ali Syari’ati yang kaya dan komplek tidak tertuang dengan utuh, dan sebaliknya, banyak konteks historis yang terlewatkan begitu saja, sehingga kesan yang muncul adalah fragmentasi dan distorsi. Tetapi tulisan Rahnema akan menjadi informasi awal yang cukup penting untuk memetakan secara historis warisan intelektual dan politik Ali Syari’ati.

Azyumardi Azra dalam salah satu bagian dari bukunya yang berjudul Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme, Hingga Post-Modernisme, menulis tentang filsafat pergerakan Ali Syari’ati. Azra menyatakan bahwa pandangan dunia Syari’ati yang paling menonjol adalah menyangkut hubungan antara agama dan politik. Sehingga dalam konteks ini, Syari’ati dapat disebut politico–religio thinker (pemikir politik keagamaan)[14], yang buah pikirannya menjadi salah satu akar ideologi Revolusi Islam Iran. Azra juga menyorot bagaimana kritik Syari’ati terhadap ulama dan tawaran Syari’ati tentang ideologi Syi’ah revolusioner (Syi’ah Alawi) sebagai lawan dari Syi’ah konservatif (Syi’ah Safavi).

Sama dengan tulisan Rahnema, Azra hanya memotret pemikiran Syari’ati pada segmen tertentu saja. Ketika ia menulis tentang pengaruh penting pemikiran Ali Syari’ati terhadap Revolusi Islam, Azra tidak menjelaskan lebih lanjut bagaimana proses pengaruh-mempengaruhi itu berjalan. Tulisan Azra hanya menambah informasi tentang karakter pemikiran Syari’ati dan komentar-komentar para tokoh terhadap pemikiran dan kiprah Syari’ati dalam gerakan oposisi di Iran saat itu.

Temuan Azra dalam bukunya itu, bahwa Ali Syari’ati mempunyai andil yang cukup signifikan dalam Revolusi Islam Iran mendapat pembenaran dari beberapa tokoh lain seperti John L. Esposito dan John O. Voll dalam bukunya Islam and Democracy, khususnya dalam bab III yang berbicara tentang berkuasanya Islam revolusioner di Iran. Esposito dan Voll menyebut Syari’ati sebagai seorang cendekiawan yang tafsir reformisnya atas Islam Syi’ah telah menggabungkan sikap anti imperialisme Dunia Ketiga, bahasa ilmu sosial Barat, dan ajaran Syi’ah Iran untuk menghasilkan suatu ideologi Islam revoluioner bagi reformasi sosial-politik.[15] Dan Ideologi macam ini yang telah mengerakkan para mahasiswa dan profesional muda yang berorientasi Islam bergabung dengan kaum ulama, santri dan pedagang melancarkan oposisi radikalnya terhadap rezim Syah.

Senada dengan John L. Esposito dan John O. Voll, Abdulaziz Sachedina dalam tulisannya, Ali Syari’ati: Ideologue of Iranian Revolution, menyatakan bahwa Syari’ati adalah salah satu tokoh yang berhasil merumuskan ideologi perjuangan bagi Revolusi Iran. Syari’ati, tulis Sachedina, menawarkan satu bentuk penafsiran baru dalam pemikiran Islam yang mendorong umat Islam untuk bersikap progresif dan anti status quo.[16] Progresifitas dan anti status quo inilah yang menjadi ruh dalam ideologi perlawanan yang ditawarkan Syari’ati, dan itu diterima baik oleh – khususnya – kelompok mahasiswa dan kaum terpelajar lainnya di Iran saat itu.

John L. Esposito dan John O. Voll serta Abdulaziz Sachedina telah menulis tentang pengaruh pemikiran Ali Syari’ati terhadap revolusi Iran, tetapi seperti juga tulisan-tulisan para tokoh terdahulu, apa yang ditulis oleh John L. Esposito dan John O. Voll serta Abdulaziz Sachedina tidak lebih hanya sekadar asumsi atau tesis yang tidak dilengkapi dengan fakta historis secara detail. Apa yang mereka tulis tidak utuh menggambarkan fakta historis dan sosio-politik disaat pemikiran Syari’ati mengalami pergolakan.

Hamid Dabashi menyebut Syari’ati sebagai “the ideologist of revolt”[17]. Dalam bukunya, Theology of Discontent: The Idelogical Foundation of The Islamic Revolution in Iran, Dabashi menyatakan bahwa Ali Syari’ati adalah salah satu ideolog terkemuka Iran yang mengusung aliran dan ideologi utama dan penting yang berpengaruh di Iran sebelum pecahnya revolusi[18]. Dalam kajian beberapa sarjana yang concern dengan Revolusi Iran, ada beberapa aliran dan ideologi menonjol yang berpengaruh di Iran sebelum pecahnya revolusi 1978-1979, diantaranya adalah ideologi sosialis-sekuler yang diusung diantaranya oleh Partai Tudeh (Partai Komunis Iran), dan ideologi sosialis-religius (Syi’ah progresif) yang diusung oleh Ali Syari’ati.

Partai Tudeh memang disebut-sebut oleh Zuyar dalam bukunya, Iranian Revolution: Past, Present and Future, sebagai elemen penting dalam revolusi Iran, disamping beberapa kelompok gerakan sosialis lainnya, diantaranya adalah Fadaeen (Organisasi Rakyat Iran).[19] Tidak hanya itu, Zuyar bahkan menempatkan Khomeini hanya sebagai tokoh yang datangnya lebih belakangan yang ambil bagian dalam gerakan revolusi. Khomeini tidak lebih dari “pembajak revolusi” tulis Zayar.[20]

Apa yang ditulis oleh Dabashi dan Zayar memberi jalan masuk yang lebar atas potret historis revolusi Iran. Tetapi masing-masing kurang menyinggung, bahkan dalam tulisan Zayar tidak disinggung sama sekali peran Ali Syari’ati dalam revolusi itu. Sehingga apa yang ditulis Zayar, lebih menampakkan peran penting kelompok Marxis Iran, dan ini seakan seperti menafikan fakta historis-sosiologis bahwa masyarakat Iran adalah mayoritas Syi’ah.

Penelitian ini mengambil fokus pada pemikiran revolusioner Ali Syari’ati dan pengaruhnya terhadap Revolusi Islam Iran. Berbeda dengan apa yang telah diteliti oleh Eko Supriyadi dan Munawar Anwar Firdausi yang lebih fokus pada pengaruh pemikiran Marxisme dalam pemikiran Syari’ati, penelitian ini lebih fokus pada pengaruh pemikirannya terhadap gerakan revolusi di Iran yang berhasih menumbangkan rezim Syah. Begitu pula dengan apa yang telah dikaji oleh Ali Rahmena yang lebih menyorot karya-karya penting Syari’ati. Tulisan Azyumardi Azra memang memberi inspirasi untuk melacak pengaruh pemikiran Syari’ati terhadap Revolusi Iran, tetapi apa yang disampaikan Azra lebih sekedar hipotesis awal dari pada sebuah analisa yang mendalam. Karya Hamid Dabashi memang memberi informasi detail tentang berbagai aliran dan ideologi yang berpengaruh dalam Revolusi Iran, tetapi dari kesekian aliran itu mana yang paling berpengaruh, dan sejauhmana pengaruh ideologi yang digagas Syari’ati dalam revolusi tampaknya belum dikupas secara memadai oleh para peneliti dan penulis itu.

BAB IV
KERANGKA TEORITIK

Selama ini revolusi merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu perubahan fundamental di pemerintahan atau konstitusi politik sebuah negara, terutama yang terjadi karena sebab-sebab internal dan lewat suatu pergolakan bersenjata, dan rusuh. Menurut Funk & Wagnalls New Encyclopedia, revolusi adalah sebuah perubahan sosial atau politik dengan memakai kekerasan dan secara paksa, dipengaruhi oleh kekejaman dan bentrok senjata; revolusi juga berarti perubahan sistem politik, namun secara cepat dan total, melalui cara-cara di luar konstitusi dan pengingkaran atas lembaga pemerintahan.[21] Senada dengan pengertian itu, dalam Black’s Law Ditionary, revolusi diartikan “on overthrow of a government usu. Resulting in fundamental political change, a successful rebellion” (meruntuhkan pemerintah yang ada, menghasilkan perubahan politik secara fundamental, dan sebuah pemberontakan yang sukses).[22]

Eugene Camenka adalah salah satu yang menyatakan bahwa kekerasan dalam revolusi adalah sebuah keniscayaan, tetapi, ia buru-buru memberi penjelasan lanjutan, seandainya revolusi itu tanpa menimbulkan kekerasan, masih tetap dianggap revolusi.[23] Akhirnya Samuel Huntington merumuskan revolusi sebagai “suatu penjungkirbalikan nilai-nilai, mitos, lembaga-lembaga politik, struktur sosial, kepemimpinan, serta aktifitas maupun kebijaksanaan pemerintah yang telah dominan di masyarakat”.[24] Dan secara prinsip dari berbagai definisi yang diberikan para pakar politik, revolusi terkait dengan gagasan perubahan menyeluruh, pembaharuan dan diskontinuitas menyeluruh dan juga menganut asumsi bahwa revolusi erat hubungannya dengan transformasi sosial.[25]

Dari beberapa definisi tentang revolusi di atas dapat diambil beberapa kata kunci (key words) dalam diskursus revolusi diantaranya adalah; perubahan politik secara fundamental (fundamental change in the political system), kekuatan massa (extra-legal mass actions), pemberontakan (rebellion and revolt), dan oposisi. Dalam banyak kasus oposisi senantiasa menimbulkan kekacauan (chaos) dan kekerasan (violence), tetapi terminologi itu bukan karakter pokok dalam revolusi, tetapi hanya sebagai akibat samping saat revolusi itu dijalankan.

Bagaimana revolusi dapat dijelaskan menjadi satu strategi politik dalam mencapai suatu tujuan? Tentu ada banyak perspektif untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Salah satu perspektif untuk melihat masalah itu adalah tesis Gramsci tentang hegemoni. Pada prinsipnya, dalam teori hegemoni ala Gramsci disebutkan bahwa para elite membutuhkan cara untuk dapat melakukan kontrol efektif terhadap pihak yang dikuasainya. Cara-cara elit ini penting dalam rangka tetap terus menjaga posisi kekuasannya dari ancaman-ancaman ketidakpatuhan. Hegemoni yang dilakukan para penguasa/elite tidak sebatas hegemoni cara-cara pruduksi, tetapi juga hegemoni ideologi. Dengan demikian, melalui hegemoni ideologis, kepatuhan bisa dipaksakan dan perlawanan bisa dipatahkan atau dilenyapkan oleh elite. Pada akhirnya ketika hegemoni itu mengalami titik kulminasi, demikian kata Gramsci, pada saat yang sama, perlawanan bisa mengambil bentuk berupa upaya-upaya kontra hegemoni oleh kelas yang dikuasai untuk melawan formasi sosial yang ada.[26]

Bagaimana kontra hegemoni bisa dilakukan oleh mereka yang tertindas? Kerkvliet adalah salah satu pakar politik yang mampu melihat fenomena kontra- hegemoni sebagai sesuatu yang mungkin terjadi yang asal-muasalnya adalah dari sikap kritisisme masyarakat bawah (yang tertindas) terhadap ideologi dominan yang dipaksakan oleh elite kekuasaan. Lebih jelas Kerkvliet menulis :
“Masyarakat dari kelas yang dikuasai tidak harus selalu tunduk kepada ideologi dominan, karena mereka mempunyai gagasan-gagasan dan keyakinan-keyakinan alternatif yang mampu menampilkan tantangan signifikan kepada pandangan kelompok dominan tentang bagaimana hak milik dan sumber-sumber lainnya bisa digunakan oleh siapa saja. Mereka mempunyai gagasan tentang hak-hak mereka dan apa itu keadilan, yang sekali lagi menentang keyakinan banyak orang yang berkuasa”.[27]

Singkatnya, gagasan bahwa ideologi kelas yang dikuasai bisa menyusup dan melawan ideologi hegemonik adalah mungkin. Banyak contoh yang membenarkan tesis ini, seperti yang diperlihatkan oleh buruh tambang di Indian. Mereka mengembangkan ideologi mereka sendiri melalui elaborasi atas kebudayaan tradisional Indian dan mereka menggunakan idiom-idiom budaya untuk melakukan perlawanan terhadap pemilik-pemilik tambang dan negara.[28]

Apakah agama bisa menjadi sumber kekuatan dan inspirasi ideologis untuk melakukan oposisi dan revolusi terhadap kekuatan elite yang hegemonik? Bagi Gramsci, fungsi agama salah satunya adalah memberikan bentuk-bentuk kesadaran baru yang sesuai dengan tahap-tahap perkembangan sosial yang baru. Menurut Gramsci, sesuatu yang memiliki nilai penting khusus adalah agama atau ideologi yang bisa mewujudkan suatu ‘kehendak kolektif nasional-populer’ seperti yang ia lihat pada protestanisme dalam revolusi Perancis.[29]

Oliever Roy dalam bukunya yang sangat populer The Failure of political Islam mengemukakan suatu fakta bahwa keyakinan tertentu terhadap agama (Islam) ternyata membawa implikasi terhadap sikap politik tertentu. Kaum Islamisis[30], begitu Roy menjelaskan, memiliki argumen politik yang berpijak pada asas bahwa Islam adalah sistem pemikiran global dan menyeluruh. Menurut mereka, masyarakat yang terdiri dari orang-orang Islam saja tidak cukup, tetapi juga harus Islami dalam landasan maupun strukturnya. Konsekwensinya, lanjut Roy, setiap orang punya kewajiban untuk memberontak terhadap negara Muslim yang dinilai korup; bahkan juga keharusan untuk mengekskomunikasikan (takfir) penguasa yang dipandang murtad serta untuk melakukan tindakan kekerasan (revolusi) terhadapnya.[31]

Peneliti tidak bermaksud memperdebatkan apakah gerakan kelompok Islamisis itu kontra produktif terhadap upaya-upaya gerakan Islam yang ramah dan toleran, tetapi sekadar mencari bukti kebenaran tesis Gramsci di atas bahwa agama bisa, bahkan menjadi faktor penting dalam menumbuhkan kekuatan oposisi dan revolusi. Mungkin ini yang ingin dieksplorasi secara akademis oleh Ali Syari’ati. Ia berupaya untuk merumuskan tradisi keberagamaan Islam yang tidak melulu mengurus akherat, seperti yang ditunjukkan oleh perilaku mayoritas Muslim. Akan tetapi yang lebih berarti dari itu semua adalah bagaimana menjadikan agama sebagai kekuatan revolusi yang membebaskan umat dari penindasan, kesewenang-wenangan dan ketidakadilan.

Sebagaimana telah dikemukakan di muka, bahwa Ali Syari’ati adalah sosok intelektual Muslim yang revolusioner. Pandangan dunia Syari’ati yang paling menonjol adalah menyangkut hubungan antara agama dan politik, yang dapat dikatakan menjadi dasar dari ideologi pergerakannya.[32] Salah satu tema sentral dalam ideologi politik keagamaan Ali Syari’ati adalah – dalam hal ini, Islam – dapat dan harus di fungsionalisasikan sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan rakyat yang tertindas, baik secara kultural maupun politik. Lebih tegas lagi, Islam dalam bentuk murninya – yang belum dikuasai kekuatan konservatif – merupakan ideologi revolusioner ke arah pembebasan Dunia Ketiga dari penjajahan politik, ekonomi dan kultural Barat. Ia merasakan problem akut yang dimunculkan kolonialisme dan neo-kolonialisme yang mengalienasikan rakyat dari akar-akar tradisi mereka.[33]

Hassan Hanafi senafas dengan Ali Syari’ati dalam memberdayakan Islam sebagai kekuatan revolusi. Untuk mewujudkan idealisme Islam pembebasan itulah, Hassan Hanafi meluncurkan jurnal berkalanya Al-Yasâr al-Islâmi : Kitâbât fi al-Nahdla Al-Islâmiyah (Kiri Islam : Beberapa Esai tentang Kebangkitan Islam) pada tahun 1981. Jurnal ini merupakan kelanjutan dari Al-Urwa al-Wutsqa dan Al-Manâr, yang menjadi agenda Al-Afghani dalam melawan kolonialisme dan keterbelakangan, menyerukan kebebasan dan keadilan sosial serta mempersatukan kaum muslimin ke dalam blok Islam atau blok Timur.[34] Jurnal ini juga terbit setelah kemenangan Revolusi Islam di Iran, tahun 1979. Sehingga, peristiwa besar itu memang telah membangkitkan Hassan Hanafi dalam meluncurkan “Proyek Kiri Islam”-nya. Namun, menganggap peristiwa itu sebagai satu-satunya penyebab, adalah tidak benar karena kita juga harus memperhitungkan faktor pergerakan Islam modern dan lingkungan Arab-Islam.[35] Demikian pula, kata Hassan Hanafi, Kiri Islam bukanlah Islam berbaju Marxisme karena itu berarti menafikan makna revolusioner dalam Islam sendiri.[36] Kiri Islam lahir dari kesadaran penuh atas posisi tertindas umat Islam, untuk kemudian melakukan rekonstruksi terhadap seluruh bangunan pemikiran Islam tradisional agar dapat berfungsi sebagai kekuatan pembebasan. Upaya rekonstruksi ini adalah suatu keniscayaan karena bangunan pemikiran Islam tradisional yang sesungguhnya satu bentuk tafsir justru menjadi pembenaran atas kekuasaan yang menindas.[37]

Tokoh Islam lain yang senafas dengan Ali Syari’ati dan Hassan Hanafi adalah misalnya Ashar Ali Engineer. Asghar menyatakan bahwa kedatangan Islam merupakan sebuah revolusi yang selama berabad-abad telah berperan secara signifikan dalam sejarah umat manusia. Akan tetapi, begitu keterangan selanjutnya dari Asghar, setelah meninggalnya Nabi Muhammad, terjadi perebutan kekuasaan yang berorientasi kepada kepentingan pribadi.[38] Saat kekuasaan itu menjadi instrumen kepentingan pribadi, muncullah dalam wilayah kekuasaan Islam, penguasa-penguasa despotik seperti yang dipertontonkan secara nyata oleh Reza Syeh Pahlevi yang menjadi obyek kritik dan oposisi Ali Syari’ati atau para penguasa Mesir yang juga menjadi ladang kritisisme seorang anak bangsa seperti Hassan Hanafi yang dikenal sebagai pengusung al-yasar al-islami (kiri Islam). Watak perlawanan Islam terhadap kesewenang-wenangan sekaligus keberpihakan Islam terhadap kelompok tertindas (mustad’afîn)[39] telah menjadi watak dasar Islam sebagai agama rahmatan li al-’âlamîn. Maka akan banyak dijumpai dalam al-Qur’an, kitab pedoman umat Islam, pelbagai anjuran bahkan perintah tegas untuk melakukan pembelaan terhadap mustad’afîn.[40] Pembelaan terhadap mustad’afîn ini dilakukan secara simultan dengan larangan secara tegas pula atas segala bentuk ketidakadilan, baik kultural maupun struktural.[41]

Sebagaimana yang menjadi fokus kajian para pemikir Islam revolusioner, bahwa Islam tidak hanya sebatas agama yang melangit, hanya sekadar kumpulan doktrin, tetapi lebih dari itu, Islam adalah agama yang sarat dengan dimensi praksis. Istilah yang sering digunakan untuk ini adalah faith in actions, keyakinan yang diwujudkan dalam aksi-aksi nyata. Berangkat dari kerangka berfikir ini, para pemikir Islam revolusioner, termasuk di dalamnya Ali Syari’ati berupaya agar buah pikirannya dapat diserap sebanyak mungkin lapisan masyarakat untuk mempengaruhi pola pikir mereka. Setelah masyarakat mengalami revolusi pemikiran, maka harapan selanjutnya adalah mewujudkan sebuah gerakan sosial-politik yang radikal untuk merevolusi struktur sosial politik yang dominan.

BAB V
METODE PENELITIAN

Sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini, yaitu kajian terhadap pemikiran Ali Syari’ati tentang Islam dan Revolusi serta pengaruhnya terhadap Revolusi Iran, maka penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research), sehingga data-data sepenuhnya diambil dari buku-buku atau karya lain yang ditulis Ali Syari’ati, sebagai sumber primer. Diantara buku-buku dan tulisan tersebut adalah Buku-buku Ali Syari’ati dalam edisi Inggris diantaranya: Islamology; And Once again Abu Dhar; Fatima is Fatima; Man and Islam; Martyrdom; On The Sociology of Islam; Red shi’ism; Retlection of A Concerned Muslim on The Plight of Oppressed Peoples; The Visage of Mohammed; A waiting the Religion of Protest; What is to be done?; Jihad and Syahadat; Hajj; dan Where shall we begin?.

Untuk mendukung data primer penulis menggunakan buku-buku baik yang ditulis oleh tokoh yang sedang diteliti atau buku-buku yang ditulis oleh orang lain yang mengupas dan memberi komentar-komentar tentang pemikiran Ali Syari’ati sebagai data sekunder. Data sekunder juga diambil dari buku-buku, makalah-makalah, majalah, jurnal dan sebagainya yang berkaitan dengan fokus penelitian.

Dalam menganalisis data yang diperoleh, peneliti menggunakan metode kajian isi (content analisys) yaitu metode yang digunakan untuk mengungkapkan isi sebuah buku atau pemikiran seseorang yang menggambarkan situasi penulis dan masyarakatnya pada waktu buku itu ditulis atau pemikiran itu ditelorkan[42]. Melalui metode content analisys dapat diketahui ide-ide dan pemikiran Ali Syari’ati tentang Islam dan revolusi yang semuanya tertuang dalam buku-buku atau tulisan lainnya yang terdokumentasi. Dengan metode ini semua bentuk lambang yang terdokumentasi itu dapat dianalisis secara mendalam untuk mendapatkan konsepsi-konsepsi yang lebih baru.[43]

Untuk mengetahui latar belakang pemikiran tokoh yang diteliti, digunakan metode historis.[44] Melalui metode ini, peneliti dapat melakukan periodisasi atau derivasi suatu fakta, dan melakukan rekonstruksi genesis: perubahan dan perkembangan. Dengan demikian pemikiran Ali Syari’ati dapat dipahami secara kesejarahan, dalam arti dapat dilacak asal mula situasi yang melahirkan pemikiran Syari’ati, baik dari aspek internal berupa ide, keyakinan, konsepsi-konsepsi awal yang tertanam dalam dirinya, tetapi juga oleh keadaan eksternal.[45] Dalam melakukan telaah historis, peneliti mengambil lima langkah tahapan: 1) pemilihan topik; 2) pengumpulan sumber; 3) verifikasi (kritik sejarah); 4) interpretasi: analis dan sintesis; dan 5) penulisan.[46]

Karena yang dikaji dalam penelitian ini adalah pemikiran tokoh (Ali Syari’ati) dan pengaruh pemikiran tersebut pada sebuah peristiwa besar (Revolusi Iran), maka metode historis yang digunakan adakah history of thought (sejarah pemikiran). Tugas sejarah pemikiran, disamping menelaah pemikiran-pemikiran besar yang berpengaruh terhadap kejadian sejarah, juga melihat konteks sejarah tempat pemikiran itu muncul, tumbuh dan berkembang.[47]

Agar metode sejarah pemikiran dapat dioperasionalisasikan, digunakan tiga macam pendekatan, yaitu kajian teks, kajian konteks sejarah dan kajian hubungan antara teks dan konteks.[48] Kajian teks digunakan untuk melihat akar geneologis pemikiran Ali Syari’ati, konsistensi, evolusi, sistematika, varian, sosialisasi, dan internal dialectics pemikirannya. Kajian konteks digunakan untuk melihat konteks sejarah, politik, budaya dan sosial pemikiran Ali Syari’ati. Dan kajian hubungan antara teks dan konteks digunakan untuk melihat pengaruh pemikiran Ali Syari’ati terhadap Revolusi Iran.