SELURUH RAKYAT PAPUA HARUS BERSATU MENYONGSONG INI

  • 5

06 Juli 2009

IDEOLOGY IMAM HUSSEIN LEBIH PENTING DIBANDINGKAN IBADAH HAJI, TANPA IMAM YANG HAQ, IBADAH HAJI MENJADI SIA-SIA (KEHILANGAN ESENSINYA)


http://ismail-asso.blogspot.com
Bismillaahirrahmaanirrahiim



HAJI BUKAN SAJA IBADAH RITUAL
TETAPI JUGA MENYANGKUT MASALAH SOSIAL,
SIASAH, SEJARAH, EKONOMI, KEHIDUPAN, KEBANGKITAN DAN IDEOLOGY.
Muhammad al Qubra
ACHEH - SUMATRA


KITA DITUNTUT UNTUK BERJUANG DIBAWAH SATU POROS
DAN SATU PEMIMPIN UNTUK MEMBEBASKAN KAUM DHU’AFA DARI BELENGGU
YANG MENIMPA KUDUK-KUDUK MEREKA.



Imam Hussein bersama segenap keluarga dan sahabat-sahabat setianya tidaklah langsung menuju padang Karbala. Beliau terlebih dahulu berangkat ke Haji untuk memberitahukan orang-orang yang sedang menunaikan 'ibadah Haji bahwa mengelilingi Ka'bah (tawaf) ketika itu sama dengan mengelilingi Istana Hijau Yazid bin Muawiyah. Bayangkan betapa khasnya kepergian Imam Hussein ke Haji saat itu dimana diikuti oleh segenap keluarganya walau bayi sekalipun. Namun Imam Hussein tidak menyelesaikan Hajinya. Nampaknya dia ingin memberitahukan orang-orang Haji bahwa tanpa Imam yang haq diikuti, haji itu tidak ada artinya sama sekali.

Barusaja tiga kali Imam melakukan tawaf, lalu berhenti yang membuat para jamaah haji yang lainpun berhenti total. Beliau berbicara seperlunya: " Saya akan hijrah ke Karbala, saya akan hijrah ke mati. Mati merah adalah mati yang paling mulia di sisi Allah. Mati berdarah adalah mati yang paling indah bagaikan kalung nan melingkar di leher gadis nan rupawan". Demikian diantara kata-kata yang indah diucapkannya. Lalu beliaupun langsung berangkat ke Karbala.

Banyak juga sahabat Rasulullah yang tega melanjutkan Hajinya tanpa mengikuti Imam Hussein ke padang Karbala. Andaikata semua orang-orang yang sedang menunaikan 'ibadah Haji memahami bahwa Haji mereka sia-sia tanpa mengikuti Imam yang haq, kemungkinan besar Imam Hussein tak akan mampu dibunuh oleh tentra Yazid bin Mu'awiyah, bahkan Imam dapat mengembalikan system negara ketika itu sebagaimana yang diamanahkan Rasulullah, datoknya atau Imam 'Ali bin Abi Thalib, ayahnya.

Ibnu Abbas (Abdullah bin Abbas) membujuk Imam untuk tidak pergi ke Karbala (Kofah). Dia mengatakan bahwa penduduk Kufah yang telah memintanya datang adalah terkenal jahat dan tak dapat dipercaya. Dia memintanya agar pergi saja ke Yaman. Disana Imam Hussein mempunyai ramai pengikut sehingga dia boleh hidup dengan aman. Imam Hussein mengatakan bahwa sahabat setianya, keluarga dan juga adiknya Muhammad Hanafiah telah berkata yang benar. "Saya juga tahu bahwa saya tidak akan mencapai apa-apa kuasa sebab saya pergi bukan untuk penaklukan dunia. Saya pergi hanya untuk dibunuh. Saya berharap bahwa melalui penderitaan yang saya tanggung dari penindasan ini, dapat mencabut keluar asas bagi segala kekejaman dan kedhaliman. Saya berjumpa dengan datuk, nabi Allah didalam mimpi memberi tahu saya agar membuat perjalanan ke Irak. Allah mahu melihat saya dibunuh". Muhammad Hanafiah dan Ibnu Abbas berkata: "Jika begitu kenapa membawa anak-anak dan wanita bersama kamu?". Imam menjawab: "Datuk saya mengatakan bahwa Allah mahu melihat mereka ditawan. Saya membawa mereka sesuai arahan Nabi Allah"

Patut kita renungkan disini bahwa Haji bukanlah sekedar ibadah Ritual, tetapi juga Sosial, Siasah, Sejarah, Ekonomi, Kehidupan, Kebangkitan dan Ideology. Haji adalah evolusi manusia menuju kepada Allah. Wahai Haji menceburlah dirimu kedalam lautan manusia agar kamu dapat mendekatkan diri kepada Allah. Dengan cara yang demikianlah kamu mendapat redhaNya. Demikian hebatnya Ibadah yang satu ini. Namun siapakah orangnya yang begitu berani memandang rendah dan sia-sia terhadap Haji tersebut ? Dia tidak berbuat sebagaimana orang-orang "Islam" yang lain. Padahal Tonggak bersejarah yang dibangun Nabi Ibrahim bersama dengan anaknya, Nabi Ismail itu telah banyak mengambil korban untuk dihidupkan kembali oleh nabi Muhammad saww, datuknya. Salahkah Imam Hussein mengabaikan Haji itu demi untuk syahid di Karbala ? Atau kitakah yang belum mampu memahami Ideology Imam Hussein dan Karbalanya ? "Setiap bulan adalah Muharram, setiap hari adalah 'Asyura dan setiap tempat adalah Karbala". Karbala adalah symbolisasi medan pertempuran antara yang haq dan yang bathil. Imam Hussein, keluarga dan sahabat setianya begitu gagah berani mengorbankan darah dan air mata untuk menyirami kembali "Pohon" Islam yang telah dimatikan Yazid, duplikat fir'aun atau Namrud.

Ideology inilah yang perlu kita pahami dewasa ini bahwa kita pantang hidup dibawah symbul-symbul kedhaliman. Kita dituntut untuk berjuang dibawah satu poros, pemimpin yang membebaskan kaum dhu'afa dari belenggu-belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka (Q.S,7:157). Apa artinya kita demikian rajin mencangkul di tengah sawah yang terbentang lebar, sementara kita lupa bahwa sebentar lagi airbah akan menyapu semua tanaman yang kita tanam tadi. Justru itu kita perlu memperbaiki bendungan terlebih dahulu agar usaha kita tidak menjadi sia-sia.

Perlu kita pahami bahwa Pemimpin (Top Leader) itu sangat menentukan suatu perjuangan. Justru itu kita tidak boleh sembarangan terhadap pemimpin. Andaikata kita berseberangan pikiran, kita hanya dibenarkan untuk menyampaikan jalan pikiran kita sementara keputusannya tetap berada ditangan Pemimpin. Andaikata pikiran kita tidak diterima, kita haq berlapang dada untuk tetap setia demi berhasilnya perjuangan. Kalau tidak demikian pastilah akan muncul oposisi yang sangat berbahaya terhadap suatu Revolusi. Oposisi takdapat ditolerir kecuali kita sudah berhasil mengalahkan musuh.

Perlu kita ingatkan kembali kata- kata Imam 'Ali, karamallah wajhah: "Suatu organisasi yang bathil tapi rapi dapat mengalahkan organisasi yang haq, namun tidak tersusun secara rapi" Perjuangan itu membutuhkan pagar yang kokoh agar babi-babi liar itu tidak mampu menembusi kawasan pohon perjuangan. Justru itulah Imam Ali mengatakan: "Teman + Teman = teman. Teman + Musuh = Musuh". Andaikata pagar yang dibuat Imam Ali ini dipahami benar oleh segenap pejuang Acheh Sumatra, sudah dulu Acheh merdeka. Pagar tersebut telah diperkenalkan kembali kepada bangsa Acheh oleh wali (Tgk. Hasan Muhammad di Tiro). Sayangnya sampai hari ini masih ada orang Acheh yang belum memahaminya. Justru itulah kita lihat sampai sekarang masih adanya orang Acheh yang tidak memahami hakikat daripada "Silaturrahmi". Padahal Rasulullah sendiri tidak bersilaturrahmi dengan pamannya Abu Lahab dan Abu Jahal disebabkan anti kepada perjuangannya.

Islam bersaudara lewat Ideology, bukan lewat darah. Abu Bakar pernah meninju ayahnya sendiri sampai pingsan disebabkan Abu Quhafah itu mencaci Rasulullah didepan matanya. Musuh bersorak-sorai dan mengatakan bahwa gara-gara Islam atau Muhammad, Abu Bakar putus hubungan (silaturrahmi) dengan ayahnya. Ketika Rasulullah menanyakan Abu Bakar tentang kejadian itu, Abu Bakar menjawab: "Demi Allah ya Rasulallah andaikata ada pedang di tanganku, dengan pedang itu kupukulnya". Rasulullah tidak memberikan jawaban kecuali menunggu wahyu Allah untuk menyelesaikannya. Lalu Allah menurunkan wahyunya surah Al Mujadalah ayat 22 yang artinya: " Tidak akan kamu dapati sekali kali (hai Muhammad) suatu kaum yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian berkasih sayang (mereka itu) kepada orang-orang yang anti kepada Allah dan RasulNya, kendatipun mereka itu adalah ayah-ayah mereka sendiri atau anak-anak mereka sendiri atau saudara-saudara mereka sendiri atau keluarga mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan ruh yang datang daripada Nya. Mereka akan dimasukkan kedalam Syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah redha terhadap mereka dan merekapun redha terhadapNya. Mereka itulah tentra-tentra Allah (baca Hizbullah). Tidakkah kamu ketahui sesungguhnya tentra-tentra Allah itulah (orang-orang) yang mendapatkan kemenangan".

Dulu di Acheh kalau ada cuak yang sudah berlumuran darah bangsa Acheh lalu di ambil tindakan oleh TNA, saudara merekapun berobah menjadi cuak. Demikian juga ketika diambil tindakan tegas terhadap orang-orang yang menghina pemimpin, saudaranya dengan otomatis memosuhi perjuangan lalu menjadi oposisi. Mareka berdalih kita sama-sama bangsa Acheh yang memiliki hak yang sama. Mereka lupa adakah hak Abu Lahab dan Abu Jahal sebagai pamannya Nabi ?
Anak Nabi Nuh tidak termasuk dalam golongan yang naik dalam bahteranya sehingga dia ditenggelamkan Allah. Namun ketika Nabi Nuh mengatakan bahwa itu adalah darah-daging nya, Allah menjawab: "Itu bukan anakmu, Nuh".

Adalah hal yang sama diberitaukan Allah kepada Nabi Ibrahim ketika berdo'a kepadaNya mengenai ayahnya, Azar sebagai arsitek tuhan palsu (patung). Allah menjawab: "Itu bukan ayahmu, Ibrahim". Demikianlah kita diajarkan Allah agar memahami bahwa Islam itu bersaudara lewat Ideology/'Aqidah. Siapapun yang berseberangan atau memusuhi perjuangan atau mencaci, menghina pemimpin adalah musuh kita kendatipun mereka itu adalah ayah-ayah kita sendiri ( Q.S Al Mujadalah 22).

Billahi fi sabililhaq
Muhammad al Qubra
di Ujung Dunia


Tidak ada komentar: